Skip to main content

Perkembangan HIV/AIDS di Kalangan Generasi Muda yang Kian Mengancam

Penulis : Made Rai Dwitya W., Cok. Istri Padmi Swari, Made Setiana Pratiwi (SMA Negeri 7 Denpasar, 2010)
(Sumber Ilustrasi Gambar : videoanywhere.co.uk)

Seperti yang kita ketahui, HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia, dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya atau menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang dan merupakan fase terminal (akhir) dari infeksi HIV.
Di Indonesia, perkembangan penyakit ini kian mengancam kehidupan, khusunya kehidupan generasi muda bangsa. Pada awalnya kasus AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1987, yang menimpa seorang warga negara Belanda di Bali. Dari tahun ke tahun kasus HIV/AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Secara nasional, berdasarkan laporan Departemen Keseshatan RI proporsi  kasus yang diketahui secara kumulatif sampai Juni 2005 per jumlah penduduk mencapai 1,67 jiwa per 100.000 penduduk. Namun, hingga Juni 2010 secara kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sejak tahun 1987 berjumlah 21.770 dari 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Sementara itu,  untuk kasus HIV positif, sampai dengan 30 Juni 2010 secara kumulatif berjumlah 44.292 kasus dengan positif rate rata-rata 10,3%. Angka perkembangan penderita HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun memang sangat mencemaskan, terlebih lagi dengan adanya arus globalisasi yang kian menggerus nilai moral anak-anak bangsa saat ini. Bila tidak ada langkah-langkah yang progresif dari berbagai pihak, para ahli memprediksikan bahwa pada tahun 2010 jumlah odha akan mencapai 475.000 orang, jumlah infeksi baru HIV sebanyak 99.000 orang, dan jumlah anak yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal akibat AIDS adalah 18.400 orang. Para ahli memperkirakan, bahwa hingga saat ini terdapat antara 90.000–130.000 orang Indonesia yang hidup dengan HIV. Dari berbagai kasus yang dilaporkan ke Departemen Kesehatan, penularan HIV/AIDS di Indonesia melalui berbagai cara diantaranya, 47,2% melalui IDU (Injection Drug User), 36,4% melalui heteroseksual dan 5,8% melalui homoseksual. Dari segi umur, 20-29 tahun (53,9%) disusul kelompok umur 30-39 tahun (25,6%) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,5%).
Beberapa kondisi yang membuat kasus AIDS di Indonesia mudah menyebar, yaitu meningkatnya penggunaan jarum suntik yang tidak steril di kalangan pemakai narkoba suntik; kemiskinan dan terbatasnya lapangan kerja yang kemudian mengakibatkan meluasnya pelacuran; adanya perilaku multiple sexsual partner (berganti-ganti pasangan seksual); prevalensi penyakit/infeksi menular seksual (IMS) yang tinggi; kesadaran pemakaian kondom yang rendah; dan jumlah penduduk yang amat besar, tingkat pendidikan yang rendah, urbanisasi dan mobiilitas penduduk yang tinggi. Pada tahun 1988, mulai dilaporkan adanya kasus di beberapa provinsi. Sedangkan pola penyebaran infeksi yang umum terjadi adalah melalui hubungan seksual, kemudian diikuti dengan penularan melalui penggunaan napza suntik. Industri seks diperkirakan melibatkan 150.000 pekerja seks komersial wanita. Berdasarkan survey  Country Report on Follow-Up to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS (UNGASS), Laporan periode 2001–2003 oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Republik Indonesia, pada Mei 2003 di 13 Provinsi di Indonesia  menunjukkan bahwa pada pekerja seks komersial, penggunaan kondom pada hubungan seks dalam kurun waktu seminggu adalah sebesar 18,9 persen di Karawang dan 88,4 persen di Merauke (Berdasarkan data Survei Surveilans Perilaku yang dilakukan di 15 kota di 13 propinsi pada tahun 2003 oleh Departemen Kesehatan dan Badan Pusat Statistik) Penderita HIV pada wanita berisiko tinggi ini cukup tinggi. Infeksi ini juga terjadi cukup tinggi pada lembaga pemasyarakatan. Faktor risiko di Indonesia yang dapat mempercepat penyebaran HIV/AIDS antara lain meningkatnya penggunaan napza suntik, perilaku berisiko seperti penggunaan jarum suntik bersama, tingginya penyakit seksual menular pada anak jalanan, keengganan pelanggan seks pria untuk menggunakan kondom, tingginya angka migrasi dan perpindahan penduduk, serta kurangnya pengetahuan dan informasi pencegahan HIV/AIDS.
Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS tinggi adalah Provinsi Bali. Di Provinsi Bali sendiri, proporsi kasus kumulatif yang diketahui/dilaporkan pada laporan Departemen Kesehatan RI pada tahun 2005 berada pada urutan tiga besar yaitu mencapai 2,97 kali angka nasional, setelah Papua (15,36 kali angka nasional) dan DKI Jakarta (11,59 kali angka nasional. Kemudian, secara komulatif tercatat 3.390 orang positif terinfeksi HIV AIDS hingga Maret 2010. Sementara berdasarkan data estimasi Dinas Kesehatan Bali jumlah kasus HIV/AIDS di Bali diperkirakan akan mencapai 7000 kasus pada akhir 2010. Berdasarkan beberapa hasil survei di Propinsi Bali, sekitar 1% penduduk laki-laki baik di pedesaan maupun perkotaan rentan dijumpai terinfeksi HIV, sekitar 10-20% pada wanita penjaja seks (WPS) dan 50-70% pada pemakai narkoba suntik (IDU). Khusus di Kota Denpasar, laporan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Denpasar  pada akhir Maret 2010 kasus HIV/AIDS di Denpasar telah mencapai angka 1.571 kasus. Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup tajam dimana pada bulan yang sama pada tahun 2009 kasus HIV/AIDS di Denpasar kurang lebih sebanyak 1.284 kasus. Sementara itu, dari hasil penelitian Dinas Kesehatan Denpasar tahun 2006, ditemukan sekitar 60 pelajar SMU di Denpasar positif terjangkit HIV/AIDS.
Kasus HIV/AIDS pada umumnya akan membawa berbagai dampak bagi kehidupan manusia. Baik dari segi sosial, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), sektor kesehatan, dan pendidikan. Dari segi sosial, beberapa dampak yang terjadi akibat HIV/AIDS antara lain : penurunan produktivitas masyarakat dan munculnya reaksi negatif dalam bentuk stigmatisasi dan diskriminasi dari masyarakat atau tindakan kekerasan terhadap odha (orang dengan HIV/AIDS). Dampak HIV/AIDS terhadap pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu dapat mempengaruhi mutu SDM dan menurunkan mutu SDM masa yang akan datang. Sedangkan dampak HIV/AIDS pada bidang kependudukan antara lain : menurunnya angka harapan hidup dan angka kematian kasar meningkat. Di segi kesehatan dampak yang ditimbulkan antara lain : dilema transfusi darah (contoh : orang yang menerima donor darah menjadi takut terinfeksi HIV, padahal di satu sisi ia sangat memerlukan tranfusi darah), meningkatnya penyakit oportunistik (misal : TBC, diare kronis, kandidiasis oro-faringenal, dermatitis generalisata, dan Limfadenopati generalisata persisten). Beberapa dampak HIV/AIDS pada bidang pendidikan yaitu, meningkatnya angka putus sekolah dikalangan siswa yang terinfeksi HIV/AIDS dan menurunnya mutu pendidikan secara umum.
Berbagai pencegahan dan penanganan kasus HIV/AIDS telah dilakukan baik dari kalangan masyarakat ataupun kalangan terkait (pemerintah). Beberapa langkah pencegahan HIV/AIDS yang telah dilakukan oleh kalangan umum  saat ini yaitu, upaya kampanye yang meliputi pemberian informasi, edukasi, dan komunikasi (KIE) sesuai dengan budaya dan agama setempat. Upaya pencegahan juga ditujukan kepada populasi berisiko tinggi seperti pekerja seks komersial dan pelanggannya, orang yang telah terinfeksi dan pasangannya, para pengguna napza suntik, serta pekerja kesehatan yang mudah terpapar oleh infeksi HIV/AIDS. Sementara itu, upaya pencegahan HIV/AIDS pada masing-masing masyarakat antara lain, menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan seksual; melakukan sterilisasi alat suntik menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat membasmi HIV/AIDS (seperti : formalin, sodium hidroklorida, dan sodium hidroksida); dan menggunakan bahan pembasmi HIV/AIDS sebelum berhubungan seksual (seperti : Nonoxynol-9). Menurut koordiantor klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) RSUP Sanglah  yang menangani masalah HIV/AIDS, Sagung Anom Suryani, penularan HIV  dapat dicegah dengan mengubah perilaku dan memakai alat kontrasespsi saat berhubungan seks. Mereka yang terinfeksi juga harus sadar untuk melakukan pencegahan penularan. Namun langkah-langkah pencegahan tersebut belum terlaksana secara efektif karena tidak semua komponen masyarakat menganggap HIV/AIDS sebagai suatu ancaman bagi kelangsungan hidup khusunya para generasi muda.
Berdasarkan data yang didapat melalui sumber di internet, persentase anak muda usia 15–24 tahun yang mempunyai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS. Menurut data Badan Pusat Statistik dan ORC Macro dalam “Indonesia Demographic and Health Surveys (IDHS) 2002-2003”, pada wanita usia subur usia 15–49 tahun, sebagian besar (62,4 persen) telah mendengar HIV/AIDS, tapi hanya 20,7 persen yang mengetahui bahwa menggunakan kondom setiap berhubungan seksual dapat mencegah penularan HIV/AIDS, dan 28,5 persen mengetahui bahwa orang sehat dapat terinfeksi HIV/AIDS. Sementara itu, sebuah penelitian pada 2002 menunjukkan bahwa 38,4 persen dari pelajar sekolah menengah atas usia 15–19 di Jakarta secara benar menunjukkan cara mencegah penularan HIV dan menolak konsepsi yang salah tentang penularan HIV. Penelitian lain di Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan NTT menunjukkan bahwa 93,3 persen anak muda usia 15–24 tahun mengetahui bahwa HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, tapi hanya 35 persen yang mengetahui bahwa penggunaan jarum suntik bersama dapat menularkan HIV dan 15,2 persen masih percaya bahwa kontak sosial biasa juga dapat menularkan HIV.
Sedangkan, penanganan terhadap kasus HIV/AIDS yang telah berjalan antara lain, melalui klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) di sarana kesehatan yang ada dan menggunakan obat (ARV = Anti Retroviral Virus) yang berfungsi untuk menekan perkembangan virus. Pada klinik VCT (Voluntary Couseling and Testing), dilakukan tes terhadap seseorang untuk mengetahui apakah orang tersebut terinfeksi oleh HIV atau tidak. Biasanya, orang yang menjalankan tes VCT ini adalah orang yang diduga atau merasa dirinya telah terinfeksi HIV. Oleh karena itu, tujuan diadakannya tes VCT ini adalah untuk mengetahui status HIV lebih dini pada seseorang, sehingga dapat segerab mungkin dimulai upaya pendampingan dan perawatan agar gejala AIDS tidak segera muncul.  Tes VCT ini dilakukan melalui tes darah yang khusus. Tes darah pada umumnya ada dua cara yaitu dengan langsung memeriksa virusnya (tes antigen menggunakan alat yang disebut PCR atau Poly Chain Reaction) dan satu lagi dengan tes serologis (memeriksa ada tidaknya antibody HIV). Namun, karena PCR masih tergolong mahal bagi masyarakat Indonesia, maka cara yang umum dilakukan adalah dengan tes serologis.
Beberapa data dan fakta dari uraian-uraian diatas merupakan segelintir dari sekian banyak permasalahan HIV/AIDS yang dihadapi segenap masyarakat. Selain itu, anak muda yang umumnya bersifat labil akan mudah terpengaruh dengan hal-hal negatif yang dapat mendekatkan kalangan remaja pada HIV/AIDS, misalnya penyalahgunaan napza dan seks bebas. Terlebih, saat ini banyak konsepsi yang berkembangan pada kalangan anak muda bahwa dengan seks merupakan ungkapan / ekspresi seseorang untuk  membuktikan rasa cinta kepada pasangannya dan dengan menggunakan napza maka seseorang akan terlepas dari permasalahan yang dihadapinya . Hal itu memang terdengar logis bagi para remaja, tetapi jika dikaitkan lagi dengan nilai-nilai dan norma dalam masyarakat Indonesia maka hal itu sangat bertentangan. Tidak hanya bertentangan dengan nilai dan norma pada masyarakat, hal tersebut juga akan dapat meningkatkan resiko terkinfeksi HIV/AIDS pada generasi muda. Selanjutnya, dampak kerugian yang dialami oleh generasi muda akan menjadi permasalahan sosial yang tentunya berdampak besar terhadap progress pembangunan secara nasional. Untuk itu, sebaiknya para generasi muda diberikan pengetahuan sejak dini mengenai HIV/AIDS serta dilakukan pencegahan secara efektif yaitu dengan konsep A, B, C, D (A = Abstinence / tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah; B = Be faithful / setia pada satu pasangan; C = Condom / menggunakan kondom saat berhubungan seksual yang berisiko; D = Don’t Inject / tidak melakukan penyalahgunaan narkoba; E = Education / selalu berusaha mendapat informasi yang benar tentang bahaya HIV/AIDS, narkoba, dan kesehatan reproduksi). Jadi, katakanlah “Gaul? Oke, HIV/AIDS? Jangan!!!”

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.