Skip to main content

Sampah sebagai Sumber Energi Listrik Sekolah

http://bisnis-jabar.com/wp-content/uploads/2012/04/sampah-antaranews.jpg
(Sumber Ilustrasi Gambar : http://www.bisnis-jabar.com)

I. Pendahuluan
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah sampah sebanding dengan tingkat konsumsi manusia terhadap barang/material yang  digunakan sehari-hari. Berdasarkan data yang diperoleh dari beberapa sumber di internet, sehari setiap warga kota menghasilkan rata-rata 900 gram sampah, dengan komposisi, 70% sampah organik dan 30% sampah anorganik. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah.

Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup  60-70% dari total volume sampah. Di beberapa daerah, produksi sampah juga sangat dipengaruhi oleh adat-istiadat. Sebagai contoh adalah di Bali. Produksi sampah di pulau Bali sangat tinggi karena adanya pengaruh adat-istiadat seperti kegiatan upacara keagamaan (pancayadnya) yang mengharuskan masyarakat Bali menggunakan material-material yang menimbulkan sampah basah.  Informasi terkini berdasarkan survei dari sebuah lembaga swadaya masyarakat Sanur, sampah di Bali setiap hari diperkirakan 5000 ton dan di dalamnya hanya terdapat 750 ton sampah plastik.
Untuk pengelolaan sampah, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sampah bersifat terpusat, dibuang ke sistem pembuangan akhir (TPA) yang tercampur. Selain itu, mobil pengangkut sampah yang disediakan oleh pemerintah sifatnya kurang efektif karena mobil pengangkut sampah tersebut hanya dapat menjangkau kawasan tertentu yang ada di pinggir jalan besar, sementara yang berada di jalan buntu, jalan sempit, dan di gang-gang mereka harus menggunakan jasa swasta, sehingga tidak semua tumpukan sampah di perkotaan dapat teratasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan sampah di perkotaan yang efektif dan menguntungkan bagi kehidupan masyarakat kota.
Di atas kertas, sampah padat perkotaan mengandung sepertiga hingga setengah energi batubara per tonnya dan mampu untuk memasok energi dalam skala nasional. Namun kenyataannya realisasi menjadikan sampah sebagai energi belum dilaksanakan secara optimal. Untuk di Bali baru dilakukan untuk daerah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan dalam kelompok Sarbagita (walaupun saat ini proyek belum berjalan maksimal). Sampah memang memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan energi listrik, karena produksi sampah setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan


II   Isi
Sampah di perkotaan memang sebuah permasalahan yang sulit ditanggulangi, karena jumlah sampah di perkotaan setiap waktunya selalu bertambah dan menyebabkan berbagai masalah, salah satunya polusi udara. Sedangkan di sisi lain, energi listrik di perkotaan kini menjadi masalah besar karena kebutuhan listrik perkotaan selalu meningkat setiap tahun sedangkan produksi listrik yang dilakukan Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengalami kekurangan pasokan.  Dan batubara merupakan sumber utama energi listrik yang diproduksi PLN semakin menipis. Oleh sebab itu penulis bermaksud untuk mengeluarkan ide yang dapat mengatasi permasalah tersebut.
Ide penulis adalah, mengolah sampah perkotaan menjadi sumber energi listrik yang dilakukan lewat sekolah-sekolah. Alasan penulis memilih tempat pengolahan berupa sekolah, karena sekolah merupakan salah satu tempat umum di perkotaan yang menghasilkan sampah dan memerlukan listrik yang cukup besar. Selain itu, sekolah merupakan tempat generasi muda menuntut ilmu, sehingga ilmu yang diterima oleh siswa di sekolah dapat langsung diaplikasikasi. Dalam hal ini adalah memanfaatkan sampah yang diolah dengan pengetahuan yang diperolehnya.
Proses pengolahannya dapat dilakukan dengan cara menampung sampah dalam sebuah lubang besar yang tertutup (bergantung dari kemampuan sekolah masing-masing) lalu dibuat lubang yang disalurkan dengan pipa penyalur panas menuju alat boiler sederhana (alat pengubah panas menjadi uap). Kemudian sampah dibakar di dalam lubang. Sampah-sampah yang dibakar akan menghasilkan panas yang akan diserap oleh pipa penyalur panas. Setelah sampai di boiler, menghasilkann panas yang kemudian diubah menjadi uap sehingga dapat digunakan untuk menggerakkan generator penghasil energi listrik. Di wilayah kota Denpasar di Bali, produksi sampah di masing-masing sekolah setiap harinya, khususnya sekolah menengah atas (SMA/sederajat) paling tidak menghasilkan 40 kg sampah (basah dan kering). Sementara itu 6000 kg sampah dapat menghasilkan daya listrik sebesar 19000 KW. Diperkirakan dengan 40 kg sampah pada masing-masing sekolah akan menghasilkan sekitar 120 KW energi listrik.
Kemudian, energi listrik yang dihasilkan tersebut dapat digunakan sebagai sumber listrik bagi penerangan, alat-alat sekolah seperti komputer, lampu taman, penerangan di kantin, dll. Dengan demikian, permasalahan listrik khusunya di sekolah dapat sedikit teratasi. Jika energi listrik yang dihasilkan berlebihan, maka energi listrik tersebut dapat dikompensasikan keluar sekolah atau dimanfaatkan secara maksimal di dalam sekolah. Misalnya sebagai penerangan di jalan sekitar sekolah, penerangan lampu kelas, kipas angin, dll. Dan jika siswa ingin menambah daya energi listrik yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah tersebut, maka siswa dapat memanfaatkan sampah-sampah yang ada di daerah-daerah yang menggunakan jasa swasta dalam pengangkutan sampahnya untuk tidak dibawa ke depo penampungan sementara atau langsung ke TPA tetapi dibawa ke sekolah-sekolah terdekat yang sudah siap mengelola sampah menjadi energi listrik. Mereka (para jasa angkutan sampah swasta) lebih diringankan dalam proses pembawaan sampah  mereka untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik di sekolah. Hal ini dapat memberikan banyak keuntungan, antara lain permasalahan sampah rumah tangga di perkotaan dapat teratasi, meringankan pendistribusian sampah yang tercecer, meringankan beban pemerintah mengenai masalah sampah,  en gatasi polusi akibat sampah, belajar hidup sehat, menghindari para oknum yang membuang sampahnya ke kali atau got, mengurangi bahaya serangan nyamuk, lalat, dan penyakit lainnya, dan terlebih lagi di saat kondisi hari raya yang datangnya beruntun ditambah musim hujan, sehingga  kendala-kendala seperti itu yang sering terjadi di Bali dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih lagi program yang dicanangkan Gubernur Bali “Bali Clean and Green” Bali yang bersih dan hijau, serta harapan Wali Kota Denpasar, agar siswa mampu memanfaatkan sampah, baik untuk diolah/di daur ulang, terjawab sudah lewat ide penulis dalam esai ini.
Produksi energi listrik secara mandiri yang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang dapat mengurangi beban produksi listrik PLN dan meringankan beban biaya listrik sekolah perlu direalisasikan, mengingat terobosan pertama diberikan kepada sekolah setaraf SMA/SMK, jika program ini  berjalan lancar, maka akan merambah ke jenjang yang lain.
Selain itu, dengan adanya terobosan seperti ini, dengan tidak sengaja akan memberikan pengaruh yang positif kepada siswa. Beberapa pengaruh positif tersebut antara lain: siswa akan lebih terampil dalam menerapkan ilmu yang diterima di sekolah dan meningkatkan kesadaran siswa terhadap pengelolaan lingkungan yang baik, belajar berkreativitas (memanfaatkan sampah menjadi sesuatu produk yang bernilai jual), belajar peduli lingkungan, belajar menerapkan ilmu yang diperoleh dalam berusaha, siswa juga akan dapat memberikan masukan kepada lingkungan tempat tinggalnya yang mengalami masalah pengelolaan sampah ataupun masalah kekurangan pasokan listrik PLN untuk memanfaatkan sampah di sekitarnya,  sebagai salah satu sumber energi listrik.
Dasar pemikiran penulis hal ini akan berjalan lancar dan akan sekse, mengingat sampah basah yang dimiliki penduduk Bali yang beragama Hindu sangat banyak mengeluarkan sampah, baik di kota maupun di desa. Kondisi di desa yang lebih banyak menghasilkan sampah basah, akan memudahkan mereka kelak menghasilkan energi listrik yang mampu digunakan untuk menerangi jalan-jalan yang rawan di desa/ daerah mereka. Swadaya dan swakelola penting diterapkan, karena berdasarkan catatan pemerintah kota Denpasar, pada akhir Oktober 2010 tercatat 5094 meter kubik dihasilkan oleh penduduk kota yang masuk ke TPA Suwung. Sementara yang belum tertangani mencapai dua sampai tiga kali dari sampah yang masuk ke TPA.
Jika pengelolaan ini dapat berjalan lancar, maka diharapkan seluruh sekolah baik di kota maupun kabupaten di Bali dapat menerapkan, dan pada akhirnya akan menyasar di seluruh sekolah yang ada di Indonesia.


III  Penutup
Dari gagasan dan penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sampah memiliki potensi yang sangat besar sebagai penghasil energi listrik, karena jumlahnya yang selalu meningkat tiap tahunnya. Pengelolaan sampah menjadi energi litrik yang dilakukan di sekolah-sekolah akan memberikan multi-positive effects pada para generasi penerus bangsa (siswa). Dan bagi masyarakat di perkotaan, akan dapat memberikan kenyamanan berupa tidak adanya penumpukan sampah di tempat-tempat umum dan pendistribusian aliran listrik di perkotaan diharapkan memiliki beban lebih ringan sehingga berlangsung dengan baik karena permasalahan pasokan litrik akan dapat teratasi dengan adanya sampah sebagai sumber energi listrik.



Semoga bermanfaat… :)
Keterangan: Esai ini adalah esai saya yang meraih Juara II dalam Lomba Esai Tata Kota (kategori pelajar) oleh Sloka Intitute dan Kementrian PU RI tahun 2010 dan dipublikasikan dalam bentuk artikel di http://www.balebengong.net dengan judul " Menjadikan Sampah Sumber Energi Sekolah" pada 4 Desember 2010

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…