Skip to main content

Potensi Pengembangan Bidang Sains dan Teknologi di Indonesia untuk Menghadapi Komunitas ASEAN 2015

 Oleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra (2013)

ASEAN Community 2015
Image Source : http://www.asianews.it/news-en/Economy,-health-and-environment-at-ASEAN-foreign-ministers%E2%80%99-summit-28728.html

Association of South East Asia Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi kerjasama regional antarnegara di kawasan Asia Tenggara yang terbentuk melalui penandatanganan Deklarasi Bangkok pada 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand. Pada awal berdiri, ASEAN beranggotakan lima Negara yang merupakan pendiri utama ASEAN, yaitu Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, serta Thailand dan kini ASEAN terdiri dari 10 negara yang bergabung kemudian Brunei Darussalam (1984), Vietnam (1995), Myanmar dan Laos (1997), dan Kamboja (1999). Di awal pembentukannya, ASEAN lebih ditujukan untuk pada kerjasama yang berorientasi politik guna pencapaian kedamaian dan keamanan di kawasan Asia Tenggara. Kerjasama regional ini kemudian semakin diperkuat dengan semangat stabilitas ekonomi dan sosial di kawasan Asia Tenggara, antara lain melalui percepatan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan budaya dengan tetap memperhatikan kesetaraan dan kemitraan, sehingga menjadi landasan untuk tercapainya masyarakat yang sejahtera dan damai (Bank Indonesia, 2008).

Dengan berjalannya waktu dan dalam rangka menghadapi berbagai tantangan kerjasama regional, termasuk krisis ekonomi 1997, para pimpinan ASEAN kembali memformulasikan “ASEAN Vision 2020” di Kuala Lumpur pada 15 Desember 1997 yang menjadi tujuan jangka panjang ASEAN. Rencana jangka panjang ASEAN ini terdiri rai tiga pilar, yaitu ASEAN Economic Community (AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN MEA), ASEAN Security Community  (ASC), dan ASEAN Socio-cultural Community. Ketiga pilar tersebut saling berkaitan satu sama lain dan saling memperkuat tujuan perncapaian perdamaian yang berkelanjutan, stabilitas serta pemerataan kesejahteraan di kawasan. Langkah untuk memperkuat kerangka kerja ASEAN Community kembali bergulir di tahun 2006 antara lain dengan formulasi blue print atau cetak biru yang berisi target dan waktu penyampaian ASEAN Community dengan jelas. Mempertimbangkan keuntungan dan kepentingan ASEAN untuk menghadapi tantangan daya saing global, diputuskan untuk mempercepat pembentukan ASEAN Community dari 2020 menjadi 2015 (12th ASEAN Summit, Januari 2007) yang berarti realisasi pembentukan ASEAN Community dilakukan lebih cepat lima tahun dari yang dicangkan (Bank Indonesia, 2008).
Indonesia memiliki peran penting  dalam membentuk ASEAN. Yaitu sebagai penggagas pentingnya kerjasama ASEAN, walaupun Thailand adalah pendorong utama. Sebagai anggota ASEAN dengan jumlah penduduk paling tinggi dibandingkan Negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia memiliki peran penting dalam mewujudkan komunitas ASEAN dan memanfaatkan berbagai peluang yang ada dengan tujuan mensejahterakan masyarakat ASEAN khususnya masyarakat Indonesia. Dengan tingkat keragaman hayati yang tinggi dan kuantitas sumber daya manusia yang tinggi yang dimiliki Indonesia, pengembangan di bidang sains dan teknologi merupakan hal yang yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan Indonesia dan akan berdampak pula pada kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara. Bidang sains dan teknologi merupakan bagian dari pilar ASEAN Socio-cultural Community yang diimplementasikan melalui kerjasama dalam bentuk ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (AMMST).
Sains dan teknologi merupakan bidang yang banyak dikembangkan di zaman modern seperti sekarang. Inovasi-inovasi di bidang sains dan teknologi telah terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Dalam hal ini, kita dapat melihat bagaimana Amerika Serikat melakukan inovasi-inovasi di bidang sains dan teknologi melalui research and development (R&D). Begitu inovasi-inovasi tersebut dikembangkan menjadi produk-produk komersial yang memiliki paten, maka ekonomi-pun ikut terdongkrak sehingga kesejahteraan dapat ditingkatkan. Sebut saja berbagai gadget pabrikan Apple dan software perusahaan Google yang mampu menembus pasar dunia dan kini diimpor oleh berbagai negara. Bahkan setiap tahunnya ada saja produk terbaru yang dikeluarkan yang artinya R&D dilakukan secara berkelanjutan. Tak hanya Amerika Serikat, kita juga bisa melihat bagaimana inovasi yang dilakukan oleh Jepang, Korea Selatan, China, dan India di bidang sains dan teknologi. Jepang sudah sangat terkenal dengan berbagai merk otomotif yang berasal dari Negeri Sakura tersebut, bahkan kita dapat .lihat sendiri bahwa sebagian besar produk otomotif yang beredar di Indonesia merupakan merk otomotif Jepang. Tak hanya Jepang, Korea Selatan juga kini mulai meluncurkan produk-produk komersial yang tentunya merupakan hasil dari riset dan pengembangan di bidang sains dan teknologi. Sebut saja berbagai gadget-gadget pabrikan Samsung dan Hallyu (Korean Wave) yang kini sedang booming di kalangan remaja. Apa hubungan sains dan teknologi dengan Korean Wave?. Mungkin pertanyaan ini akan dipertanyakan dalam tulisan ini. Namun, sesungguhnya Korea Selatan sangatlah apik mengembangkan dan menyebarkan budayanya melalui media digital yang mampu menarik perhatian setiap orang yang melihat dan menyaksikannya. Melalui perkembangan teknologi, Korea Selatan memanfaatkan teknologi untuk menyebarluaskan budayanya, bahkan pemerintah Negara tersebut mendukung hal tersebut. Lalu, apa yang bisa dilakukan Indonesia dalam pengembangan bidang sains dan teknologi khususnya dalam menghadapi ASEAN Community 2015?
Indonesia adalah negara maritim, ditaburi dengan lebih dari 17.500 pulau – besar dan kecil. Negeri ini tepat berada di daerah khatulistiwa mempunyai lebih dari 42 tipe ekosistem daratan dan 5 (lima) tipe ekosistem laut yang sangat unik – mulai dari hamparan es abadi di puncak gunung Jaya Wijaya Papua hingga ke palung laut paling dalam. Keunikan ekosistem ini telah menjadikan Indonesia dianugerahi sumber daya alam hayati yang sangat berlimpah dan sangat beranekaragam. Tidak ada satu negarapun di dunia yang memiliki kondisi alam seperti negeri kita, Indonesia. Tidaklah berlebihan bila dikatakan, bahwa Indonesia merupakan negara terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati (biodiversitas). Secara geografis, Indonesia juga sangat strategis karena berada di antara dua benua, Asia dan Australia dan di antara dua samudra, samudera Hindia dan Pasifik serta merupakan pertemuan atau peralihan dua kawasan biogeografi penting – kawasan Oriental dan kawasan Australian. Kondisi seperti ini menjadikan Indonesia merupakan kawasan terunik di dunia, yang mengandung kekayaan alam yang dimiliki oleh dua kawasan biogeografi. Kawasan Indonesia juga merupakan batas penyebaran berbagai biota khas Oriental maupun biota khas Australian. WRI, IUCN dan UNED (1995) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sampai 25 % aneka spesies di dunia padahal luas wilayah daratannya hanya 1.3% dari luas daratan dunia. Berbagai sumber telah mengakui bahwa Indonesia memang Negara dengan megabiodiversitas. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan ke 3 setelah Brasil (Amerika Selatan) dan Zaire (Afrika), sedangkan beberapa sumber lain menempatkan Indonesia di posisi ke dua setelah Brasil (Sukara dan Tobing, 2008).
Sebagai Negara yang memiliki wilayah geografis yang luas, Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Berdasarkan sensus pendudukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 230 juta jiwa yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia. Potensi sumber daya alam dan jumlah penduduk yang sedemikiannya memiliki prospek yang sangat besar membawa masyarakat Indonesia khususnya menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Pengembangan bidang sains dan teknologi diperlukan untuk mengelola keanekaragaman hayati tersebut agar menghasilkan karya-karya inovatif yang mampu diaplikasikan dalam kehidupan dan berdampak positif bagi umat manusia.
Berdasarkan sumber daya hayati yang tersedia di Indonesia, beberapa sektor bidang sains dan teknologi yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan secara komprehensif di Indonesia antara lain sektor pangan (makanan), obat-obatan dan nutrisi/suplemen, serta energi. Ketiga sektor tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia di zaman modern seperti ini, Pengembangan sektor tersebut menjadi penting karena seiring dengan meningkatnya jumlah populasi dunia, ketiga kebutuhan di sektor tersebut juga akan meningkat sedangkan ketersediaannya akan mungkin menurun.
Dalam sektor obat-obatan, pertumbuhan penduduk yang pesat dan mobilitas penduduk yang tinggi akan menimbulkan permasalahan yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah permasalahan di bidang kesehatan dimana dengan meningkatnya populasi dan mobilitas, maka akan dapat meingkatkan resiko munculnya penyakit-penyakit baru. Sementara itu, perlombaan pencarian obat baru seiring dengan munculnya penyakit-penyakit baru semakin menarik minat negara-negara maju. Kekayaan alam hayati wilayah tropis, khususnya Indonesia, menjadi incaran banyak pihak. Kegiatan pencarian senyawa bahan alam untuk keperluan bisnis, "bioprospecting", dari kekayaan keanekaragaman hayati asli Indonesia semakin kencang dan bahkan diprediksi banyak kalangan di dunia akan menjadi bidang bisnis yang akan meledak (Sukara dan Tobing, 2008). Indonesia memiliki prospek sebagai “gudang” produksi bahan baku obat bagi Negara-negara ASEAN atau bahkan dunia karena tingkat keragaman flora maupun faunanya tinggi sehingga sumber daya alam tersebut dapat dikembangkan untuk penemuan senyawa-senyawa obat baru yang lebih aman dan tersedia secara alami di alam.
Di sektor energi yang kini menjadi isu yang serius dibahas oleh oleh dunia secara global karena ketersediaannya (energi fosil) yang semakin menurun dan dampak negatifnya bagi kehidupan makhluk hidup, Indonesia dengan keragaman hayatinya memiliki potensi besar dalam mengembangkan sumber-sumber bioenergi terbarukan dan ramah lingkungan yang dapat diproduksi secara komersial untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat. Sebut saja beberapa penemuan yang telah dilakukan oleh ilmuwan Indonesia seperti biogas yang berasal dari kotoran hewan, minyak jarak, biethanol, dan biodiesel. Belum lagi letak dan kondisi geografis Indonesia yang terletak di wilayah tropis yang merupakan daerah yang mendapat penyinaran matahari paling lama di bumi serta wilayah perairan yang luas, maka sinar matahari, angin, bahkan ombak laut dapat menjadi potensi besar untuk mengembangkan sumber energi terbarukan.
Pengelolaan kekayaan hayati Indonesia melalui pengembangan bidang sains dan teknologi tentunya memerlukan dukungan dari segi kualitas sumber daya manusia yang memadai. Namun sayangnya, kualitas sumber daya manusia masih belum maksimal. Hal ini terbukti dari laporan Human Development Index (HDI) Indonesia oleh yang dirilis oleh UNDP (2012) berada di posisi 121 dari 187 negara. HDI Indonesia masih tergolong pada Medium Human Development. Di kawasan Asia Tenggara peringkat HDI Indonesia berada di bawah, Singapura (18), Brunei Darussalam (30), Malaysia (64), Thailand (103), Filipina (114). Bahkan HDI Singapura dan Brunei Darussalam tergolong pada kategori Very High Human Development sedangkan Malaysia dan Thailand pada kategori High Human Development. HDI sendiri merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi tentang pembangunan manusia, yaitu (1) panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari usia harapan hidup), (2) terdidik (diukur dari tingkat kemampuan baca tulis orang dewasa dan tingkat pendaftaran di sekolah dasar, lanjutan dan tinggi), dan (3) memiliki standar hidup yang  layak (diukur dari paritas daya beli/ PPP, penghasilan). Padahal, dalam pengelolaan sumber daya alam yang melimpah yang dimiliki oleh Indonesia, diperlukan sumber daya manusia dengan kualitas yang memadai agar sumber daya alam yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal demi kesejahteraan masyarakat.
Sinergi positif antara masyarakat dan pemerintah merupakan kunci suskses pengelolaan sumber daya alam yang efektif dan efisien. Peran serta pemerintah dalam riset dan pengembangan sains dan teknologi diperlukan untuk mendukung ilmuwan-ilmuwan Indonesia dalam berinovasi. Sudah merupakan hal yang biasa jika kita menyaksikan atau mendengar berita mengenai Ilmuwan Indonesia yang sukses di negeri orang dan enggan untuk kembali ke Indonesia karena kurangnya dukungan dan fasilitas di negeri sendiri. Tak hanya pemerintah, masyarakat Indonesia-pun (dalam hal ini sebagai pihak swasta) harus berpartisipasi dalam mendukung pengembangan sains dan teknologi ini. Pengembangan sains dan teknologi demi terkelolanya sumber daya hayati Indonesia yang efektif dan efisien membutuhkan kerjasama yang erat antara pemerintah, masyarakat serta industri.
Indonesia dapat mengambil nilai positif dari beberapa tindakan pengembangan sains dan teknologi yang dilakukan oleh beberapa negara. Korea Selatan misalnya 7 tahun lalu telah menambah dana riset sebesar 43% dibandingkan dengan sebelumnya. Sementara itu, dana yang dialokasikan pihak Amerika untuk riset dalam bidang bioteknologi pada tahun yang sama jauh lebih besar Amerika Serikat yaitu sekitar 18 miliar dolar. Sementara itu Jepang mengalokasikan dana 4,6 miliar dolar untuk tujuan yang sama. Tokyo sendiri telah mencanangkan 18 miliar dolar untuk riset di bidang bioteknologi dan berambisi untuk mengubah bioteknologi menjadi bisnis senilai 234 miliar pada tahun 2010. Singapura juga mengikuti jejak Jepang dengan mengalokasikan dana riset sebesar 570 juta dolar. Singapura berambisi bukan saja sebagai pusat regional percobaan klinis, melainkan ingin menjadi rumah bagi 15 perusahaan biosience kelas dunia pada tahun 2010. Negeri pulau itu juga telah meluncurkan sebuah program gen Singapura yang ambisius, yakni untuk mempelajari pembuatan genetika dari berbagai orang Asia dengan proyek sebesar 34 juta dolar yang dimaksudkan sebagai landasan untuk mengembangkan obat-obat baru dan perawatan tertentu. Taipei menyiapkan 900 juta dolar untuk litbang dan modal ventura. Pusat Riset, Biomedical Engineering Center, di Hsinchu yang baru berdiri setahun telah mempatenkan 120 produk dan telah melisensi ke berbagai perusahaan (Sukara dan Tobing, 2008).
Sebagai negara anggota ASEAN dengan jumlah penduduk terbanyak, wilayah geografis terluas, serta keanekaragaman hayati tertinggi, Indonesia dapat dikatakan mampu dan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat sains dan teknologi di kawasan Asia Tenggara, tentu dengan sinergi antara keanekaragaman hayati tersebut dengan kualitas sumberdaya manusia yang memadai agar kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara dan Indonesia khususnya dapat ditingkatkan. Sekali lagi, kerjasama erat berbagai pihak sangat diperlukan demi optimlisasi pengembangan bidang sains dan teknologi. Dan satu faktor penting yang harus diperhatikan dan tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaanya adalah kelestarian sumber daya hayati yang berkelanjutan demi menjaga keseimbangan alam agar kegiatan pengembangan sains dan teknologi tidak hanya menguntungkan manusia, melainkan juga menguntungkan lingkungan sekitar (alam).

SUMBER PUSTAKA
Bank Indonesia. 2008. MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) 2015 : Memperkuat Sinergi ASEAN di Tengah Kompetisi Global. Jakarta : Elex Media Komputindo
BPS. 2010. Hasil Sensus Penduduk 2010 : Data Agregat  per Provinsi. Jakarta : Badan Pusat Statistik.
Indartono, Yuli Setyo. 2005. Krisis Energi di Indonesia: Mengapa dan Harus Bagaimana. Inovasi, Vol.5/XVII/November 2005.
Sukara, Endang dan Imran SL Tobing. 2008. Industri Berbasis Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Indonesia. Vis Vitalis, Vol. 01 No. 2.

UNDP. 2013. Human Development Report 2013. United Nations Development Programme.


NB : Informasi lebih lanjut mengenai ASEAN Community dapat dilihat di link http://www.asean.org/

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.