Skip to main content

Konsep Comprehensive HIV Care sebagai Upaya Meningkatkan Kepatuhan ODHA dalam Terapi ARV


 
Salah satu permasalahan kesehatan yang kini menjadi fokus masyarakat global dan Indonesia adalah transmisi penyakit infeksi menular yang semakin tinggi seiring dengan perkembangan zaman globalisasi yang memberikan kemudahan mobilitas penduduk antardaerah maupun antarkawasan dan perkembangan gaya hidup yang kian beragam. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya penanggulangan infeksi penyakit menular sebagai salah satu dari tujuh fokus utama pada program Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan oleh World Health Organization (WHO) dan diharapkan dapat tercapai pada 2015. Salah satu penyakit menular yang diharapkan mampu ditanggulangi adalah HIV/AIDS. Program MDGs di Indonesia untuk memerangi HIV/AIDS meliputi pengendalian transmisi HIV/AIDS dan menurunkan jumlah kasus baru pada 2015. Termasuk dalam program ini adalah terjaminnya ketersediaan obat antiretroviral (ARV) secara universal bagi penderita HIV/AIDS untuk menekan jumlah virus dalam tubuh penderita dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dimana penyakit ini ditandai oleh infeksi oportunistik dan atau beberapa jenis keganasan tertentu yang diakibatkan oleh keadaan berkurangnya fungsi imun penderita akibat infeksi HIV (Agustriadi dan Sutha, 2008). United Nations and AIDS (UNAIDS) pada Global HIV dan AIDS Epidemik, November 2010, melaporkan terdapat 33,3 juta penderita HIV/AIDS di seluruh dunia (Wahyudi, dkk; 2013). Di Indonesia, peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS tergolong cepat. Hingga 31 Desember 2006, jumlah kumulatif penderita di Indonesia tercatat telah mencapai 8.194 kasus (Rahmadini, 2008). Jumlah kasus tersebut kini telah meningkat tajam mencapai 43.347 kasus pada Maret 2013 berdasarkan data Departemen Kesehatan RI. Pola penyebaran infeksi HIV yang umum terjadi adalah melalui hubungan seksual, kemudian diikuti dengan penularan melalui penggunaan napza suntik. Jumlah infeksi HIV pada pengguna napza suntik telah meningkat dengan cepat dari 16% pada 1999 menjadi 43% pada 2003 (WHO, 2008).
Penatalaksanaan kasus HIV/AIDS saat ini terbatas pada terapi antiretroviral (ARV), yang bertujuan mengurangi laju penularan HIV di masyarakat, memulihkan dan/atau memelihara fungsi imunologis, menurunkan komplikasi akibat HIV, memperbaiki kualitas hidup ODHA, menekan replikasi virus secara maksimal dan secara terus menerus, dan menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV). Dari hasil penelitian sudah membuktikan bahwa ARV efektif menurunkan infeksi HIV dan menemukan bahwa 80% pasien terinfeksi  HIV yang minum ARV dua kali sehari, kadar virus dalam darah tidak terdeteksi setelah enam bulan pengobatan (Farmacia dalam Mahardining, 2009). Pemberian obat-obatan pun tidak lagi hanya satu jenis tetapi sudah merupakan kombinasi dari obat-obat yang direkomendasikan untuk HIV/AIDS. Selain itu, ODHA juga memerlukan obat-obatan untuk membasmi infeksi-infeksi oportunistik, seperti obat anti jamur, kanker, TBC, dan lain-lain.
Terapi ARV menuntut kepatuhan (adherence) dan kesinambungan berobat yang melibatkan peran pasien, dokter atau petugas kesehatan, pendamping dan ketersediaan obat. Kepatuhan (adherence) pasien dalam terapi antiretroviral merupakan kunci dari keberhasilan terapi dan akan memberikan outcome positif bagi kualitas hidup pasien. Namun kepatuhan (adherence) merupakan permasalahan utama yang sering terjadi pada ODHA ketika menjalani terapi ARV dan merupakan penyebab utama terjadinya resistensi terhadap obat antiretroviral yang diberikan. Data WHO tahun 2006 menunjukkan bahwa kepatuhan rata-rata pasien pada terapi jangka panjang terutama HIV/AIDS di negara maju hanya sebesar 50%, sedangkan di negara berkembang, jumlah tersebut bahkan lebih rendah. Beberapa kendala yang menyebabkan ODHA kesulitan dalam melaksanakan kepatuhan menjalankan terapi yaitu karena efek samping obat, lupa terhadap jadwal pengobatan, dan kurangnya pemahaman terhadap pengobatan (Mahardining, 2009). Selain itu, keterbatasan pelayanan kesehatan seperti lokasi rumah sakit rujukan yang berada di perkotaan, serta pemeriksaan darah dan konseling secara rutin yang memerlukan biaya, pemakaian jangka panjang yang menyebabkan timbulnya rasa bosan, kekurangdisiplinan dan kekhawatiran akan timbulnya efek samping, perilaku ODHA yang pola hidupnya tidak teratur, serta menghadapi stigma dan diskriminasi merupakan faktor lain yang menghambat penggunaan ARV (Yuniar dkk., 2013).
Kurangnya kepatuhan ODHA dalam melakukan terapi ARV merupakan tantangan tersendiri bagi berbagai tenaga medis terkait yang memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan optimal guna menanggulangi HIV/AIDS di Indonesia. Karena itulah, pelayanan secara komprehensif yang melibatkan integrasi tim interprofesi di bidang kesehatan merupakan hal yang sangat diperlukan dalam pelayanan kesehatan terhadap ODHA guna menjaga kepatuhan ODHA dalam menjalani terapi ARV.
Akses seluas-luasnya bagi ODHA untuk menerima pelayanan kesehatan secara komprehensif sangat dibutuhkan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian karena HIV/AIDS. Konsep Comprehensive HIV Care melibatkan berbagai tenaga medis sesuai bidangnya masing-masing yang akan secara terintegrasi memberikan pelayanan kesehatan kepada ODHA sesuai peran masing-masing khususnya dalam meningkatkan kepatuhan terapi ARV mengingat terapi ini dilakukan seumur hidup. Hal penting yang menjadi peran tenaga medis dalam pelayanan secara komprehensif ini adalah konseling dan edukasi bagi penderita. Yuniar dkk. (2013) membagi faktor yang dapat meningkatkan kepatuhan ODHA menjadi 3 yaitu, faktor internal, faktor pelayanan, dan faktor dukungan sosial. Faktor internal yang meliputi motivasi diri ODHA untuk tetap bertahan hidup, tingkat kesadaran tinggi akan fungsi dan manfaat ARV serta keimanan terhadap agama/keyakinannya. Sedangkan faktor pelayanan meliputi akses dan keterjangkauan terapi ARV. Dan faktor dukungan sosial meliputi dukungan keluarga, teman dan tenaga kesehatan. Ketiga faktor tersebut harus diperhatikan dalam memberikan pelayanan medis terhadap ODHA karena faktor-faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain.
Persepsi ODHA terhadap keparahan penyakit yang dideritanya akan berpengaruh pada kepatuhan terapi. Dalam hal ini tenaga medis dapat melakukan konseling dan edukasi kepada pasien mengenai penyakit HIV/AIDS yang sedang dideritanya. Konseling dan edukasi ini ditujukan untuk memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan pasien terhadap terapi yang dijalani sehingga penderita tidak terpengaruh oleh stigma negatif tentang HIV/AIDS. Dalam hal ini dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya dapat memberikan konseling dan edukasi sesuai kompetensi masing-masing sehingga proses terapi dan kualitas hidup penderita dapat dijaga dengan optimal. Misalnya dokter dapat memberikan informasi kepada pendrita mengenai pola hidup yang sebaiknya dijalankan untuk menjaga kesehatan pasien dan apoteker dapat memberikan konseling mengenai informasi obat-obat yang digunakan dalam terapi ARV sehingga pasien dapat mengerti keadaanya sendiri. Keluarga penderita juga perlu diberikan konseling dan informasi mengenai keadaan penyakit penderita sehingga tidak ada stigma negatif yang muncul pada keluarga penderita dan akan ikut berperan dalam mendukung penderita untuk menjalani terapi ARV.
Selain dengan melakukan konseling dan edukasi, tenaga medis dan pemerintah harus bersinergi dalam menjaga keterjangkauan terapi ARV karena seringkali permasalahan ekonomi menjadi alasan ketidakpatuhan penderita dalam menjalani terapi mengingat terapi dilakukan seumur hidup penderita. Walaupun obat-obat ARV didapatkan secara gratis, terkadang ketersediaan obat ARV tidak mencukupi kebutuhan para penderita sehingga harus mencari ke tempat atau daerah lain yang sulit dijangkau oleh penderita. Selain itu, penderita juga memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatan penyakit oportunistik yang menyertai HIV/AIDS.
 Dengan adanya Comprehensive HIV Care, permasalahan ketidakpatuhan ODHA dalam terapi ARV akan mampu diatasi sedikit demi sedikit. Namun pelayanan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan dan professional oleh tenaga-tenaga medis yang berperan. Dalam hal ini peningkatan peran dan profesionalitas tenaga kesehatan akan mendukung efektivitas Comprehensive HIV Care. Koordinasi dan komunikasi diantara tenaga kesehatan harus berjalan dengan baik agar pelayanan yang diberikan dapat berjalan optimal sehingga tujuan untuk meningkatkan kepatuhan terapi penderita akan tercapai dan resiko resistensi dapat dikurangi serta yang paling penting adalah kualitas hidup penderita dapat ditingkatkan.

Pustaka :
Depkes RI. 2006. Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan : Jakarta
Mahardining, Anggipita Budi. 2010. Hubungan Antara Pengetahuan, Motivasi,  dan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Terapi ARV ODHA. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 5 (2), hal. 131-137
Yuniar, Yuyun dkk.. 2013. Faktor-faktor Pendukung Kepatuhan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Dalam Minum Obat Antiretroviral di Kota Bandung dan Cimahi. Buletin Penelitian Kesehatan. Vol. 41, No.2, hal. 72-83
Rahmadini, Yulian dkk.. 2008. Perbandingan Efikasi Beberapa Kombinasi Antiretroviral pada Pasien HIV/AIDS Ditinjau dari Kenaikan Jumlah CD4 Rata-rata (Analisis Data Rekam Medis Di RSK Dharmais Jakarta Tahun 2005 – 2006). Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. 5, No.2, hal 67-64
WHO. 2008. WHO Country Cooperation Strategy 2007–2011 Indonesia. WHO : India

CMIIW.. :)
 Oprec #IndonesiaMedika www.indonesiamedika.org :)

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.