Skip to main content

Pentingnya Asupan Serat Pangan (Dietary Fiber Intake) dalam Usaha Pencegahan Non-communicable Disease (NCD)


Oleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra

Globalisasi telah membawa era baru yang memberikan berbagai keuntungan dan kemudahan bagi kehidupan manusia. Globalisasi berdampak baik pada meningkatnya keterbukaan akan ide-ide baru untuk tujuan peningkatan stabilitas hubungan antarnegara, perekonomian dan perdagangan global. Namun, globalisasi juga menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan global yang mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat dunia. Permasalahan mengenai transmisi penyakit menular dan ketersediaan terapi (pengobatan) penyakit yang terjangkau telah menjadi perhatian utama masyarakat global selama ini. Di sisi lain, meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas akibat non-communicable disease (NCD) yang selama ini terabaikan kini mulai mendapat perhatian dunia.1 Bahkan, morbiditas dan mortalitas NCD meningkat hingga melebihi penyakit menular. Hal tersebut menunjukan bahwa telah terjadi transisi epidemi penyakit secara global dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular.
Non-communicable disease (NCD) didefiniskan sebagai suatu kelompok penyakit kronis yang bersifat tidak menular.2,3 Empat golongan penyakit utama yang termasuk dalam NCD yaitu gangguan kardiovaskular, kanker, gangguan pernapasan kronis, dan diabetes. NCD, khususnya keempat golongan utama NCD tersebut menjadi salah satu permasalahan kesehatan dunia yang mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan karena merupakan penyebab utama kematian secara global saat ini.2-4 World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 35 juta kematian setiap tahunnya (60% dari angka kematian dunia) yang diakibatkan oleh NCD dengan proporsi paling tinggi adalah penyakit kardiovaskular yaitu sebanyak 17,3 juta jiwa, diikuti dengan kanker (7,6 juta jiwa), penyakit saluran pernapasan (4,2 juta jiwa), dan diabetes (1,3 juta jiwa).2,5 Kasus NCD banyak ditemukan pada negara dengan penghasilan menengah kebawah dimana sekitar 29 juta jiwa (80% dari kasus NCD global) meninggal akibat NCD.2,7 Pada tahun 2008, sebanyak 36 juta jiwa (63% dari kematian dunia) disebabkan oleh NCD.4,6 NCD juga seringkali dihubungkan dengan penyakit yang terjadi pada usia lanjut, tapi pada kenyataannya NCD dapat menyerang usia produktif. Sekitar 9 juta kematian akibat NCD terjadi pada usia dibawah 60 tahun.2
NCD juga merupakan salah satu masalah kesehatan yang dihadapi di Indonesia. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001, tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi dimana kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat, sedangkan kematian karena penyakit menular semakin menurun. Selama tahun 1995 hingga 2007 proporsi penyakit menular di Indonesia telah menurun sepertiganya dari 44,2% menjadi 28,1%, akan tetapi proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 41,7% menjadi 59,5%, sedangkan gangguan maternal/perinatal dan kasus cedera relatif stabil. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan tingginya prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia, seperti hipertensi (31,7%), penyakit jantung (7,2%), stroke (8,3‰), diabetes melitus (1,1%) dan diabetes melitus di perkotaan (5,7%), asma (3,5%), dan kanker/tumor (4,3‰).4
Kematian akibat NCD diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin. WHO memperkirakan angka kematian akibat NCD akan meningkat sebanyak 15% pada periode 2010-2020. Peningkatan paling tinggi akan terjadi pada kawasan Pasifik Barat dan Asia Tenggara, dimana pada kawasan Pasifik Barat angka kematian diprediksi mencapai 12,3 juta jiwa dan pada kawasan Asia Tenggara diprediksi mencapai 10,4 juta jiwa pada tahun 2020.2,6 Peningkatan kejadian NCD berhubungan dengan peningkatan faktor risiko akibat perubahan gaya hidup seiring dengan perkembangan dunia yang makin modern dan pertumbuhan populasi global. Adanya proses globalisasi yang diikuti dengan peningkatan populasi global merupakan penentu utama epidemi NCD baik secara langsung maupun tidak langsung.1,4
Faktor risiko NCD merupakan faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kelompok penyakit tersebut. WHO membagi faktor risiko NCD menjadi 2 kelompok yaitu faktor perilaku/pola hidup dan faktor metabolik/fisiologis. Faktor perrilaku/pola hidup meliputi penggunaan tembakau, kurangnya aktivita fisik, pola makan tidak sehat, dan penggunaan alkohol berlebih. Sedangkan faktor metabolik/fisiologis meliputi peningkatan tekanan darah, kelebihan berat badan/obesitas, hiperglikemia, dan hiperlipidemia.2,6 Sementara itu, Tokunaga et al. membagi faktor risiko NCD menjadi tiga kelompok yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu faktor lingkungan, perilaku, dan biologis. Faktor lingkungan, yang meliputi urbanisasi, globalisasi, rendahnya pengetahuan terhadap kesehatan serta beban psikis, akan menyebabkan terjadinya perilaku atau pola hidup tidak sehat seperti konsumsi tembakau, pola makan tidak sehat, kurang beraktivitas, dan perubahan ritme sirkadian. Pola hidup yang tidak sehat tersebut akan menyebabkan beberapa perubahan biologis antara lain tingginya kadar gula darah dan tekanan darah, kadar lemak tubuh yang tidak normal, serta terganggunya fungsi paru yang akan memicu terjadinya NCD.8 Faktor risiko NCD berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat dimana kemiskinan sangat berhubungan dengan kejadian NCD. Kebanyakan NCD terjadi pada negara-negara berpenghasilan rendah karena masih tingginya angka kemiskinan. Kemiskinan akan memicu terbentuknya pola hidup tidak sehat, yang merupakan faktor risiko terjadinya NCD, akibat rendahnya kondisi sosial dan ekonomi masyarakat miskin. Dengan meningkatnya kejadian NCD justru akan menyebabkan terhambatnya usaha untuk menurunkan angka kemiskinan di negara-negara berpenghasilan rendah.2
Globalisasi memberikan efek negatif bagi pekembangan epidemi NCD di dunia karena memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada gaya hidup masyarakat. Secara langsung, globalisasi melalui adanya proses industrialisasi menyebabkan peningkatan produksi dan pemasaran tembakau, alkohol, makanan instan, dan produk-produk lain yang memberikan efek buruk bagi kesehatan manusia.1 Selain itu, perubahan gaya hidup, perdagangan global dan perkembangan pemasaran produk-produk makanan telah menyebabkan terjadinya transisi asupan nutrisi dimana terjadi peningkatan asupan makanan dengan proporsi lemak jenuh dan makanan yang mengandung kalori tinggi, sedangkan asupan serat pangan (dietary fiber), buah-buahan, dan sayur-sayuran semakin menurun.1.7,8 Terlebih lagi pemasaran produk-produk pangan lebih ditujukan bagi negara-negara berkembang yang dianggap sebagai pangsa pasar karena memiliki jumlah populasi yang tinggi. Urbanisasi dan peningkatan pendapatan individu mengakibatkan adanya perubahan gaya hidup yang merupakan penyebab utama terjadinya transisi asupan nutrisi tersebut.7,8 Transisi asupan nutrisi menimbulkan terjadinya pola diet tidak sehat yang akan memicu berbagai perubahan metabolik/fisiologis, antara lain hirperglikemia, hiperkolesterolemia, hiperlipidemia, dan hipertensi, akan meningkatkan risiko terjadinya NCD. Perubahan gaya hidup masyarakat saat ini yang cenderung mengadopsi budaya Barat (Western culture) telah menyebabkan terjadinya transisi asupan nutrisi khususnya di negara-negara berkembang. Banyak masyarakat di negara-negara berkembang yang mengadopsi pola makan orang Barat (Western diet). Ciri khas Western diet adalah makanan cepat saji dengan kandungan kalori dan lemak jahat (lemak trans, lemak jenuh) tinggi, memiliki nilai indeks glikemik tinggi, serta miskin akan kandungan fitokimia dan serat pangan (dietary fiber). Pola makan tersebut diketahui meningkatkan risiko terjadinya NCD.8
Berbagai faktor risiko NCD baik yang berhubungan dengan gaya hidup maupun kondisi metabolik/fisiologis merupakan hal yang dapat dicegah secara langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehar-hari sehingga risiko untuk terkena NCD dapat diturunkan. Langkah pencegahan merupakan langkah utama dalam mengendalikan prevalensi NCD karena dapat dilakukan dengan cara yang mudah dan sederhana, namun memerlukan konsistensi dalam pelaksanaannya. Pencegahan NCD yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah menerapkan gaya hidup sehat melalui pola makan yang memperhatikan asupan gizi dalam makanan yang dikonsumsi. Seperti yang telah diketahui bahwa, pola makan tidak sehat akan meningkatkan risiko terjadinya NCD. Salah satu yang perlu diperhatikan dalam pengaturan pola makan sehat adalah asupan serat pangan atau yang dikenal sebagai dietary fiber. Asupan serat pangan harian yang cukup dan tepat diketahui memiliki manfaat yang baik dalam mencegah terjadinya NCD.
Serat adalah bagian dari tanaman yang tidak dapat diabsorpsi (diserap) oleh tubuh. Dalam ilmu gizi, serat sayuran dan buah disebut serat kasar (crude fiber). selain serat kasar, terdapat juga serat pangan yang tidak hanya terdapat pada sayur dan buah, tetapi juga ada dalam makanan lain misalnya beras, kentang, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Serat dalam makanan disebut sebagai dietary fiber sangat baik untuk kesehatan manusia.9 Menurut WHO dan Food and Agriculture Association (FAO), serat pangan adalah polisakarida dengan sepuluh atau lebih unit monomer (glukosa) yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim dalam usus halus.10 Umumnya, serat pangan banyak terkandung dalam tanaman. Komposisi kimia serat pangan bervariasi tergantung dari komposisi dinding sel tanaman penghasilnya. Pada dasarnya komponen-komponen dinding sel tanaman terdiri dari selulosa, hemiselulosa, pektin, lignin, mucilago yang termasuk dalam serat pangan. Berdasarkan kelarutannya dalam air, serat pangan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu serat pangan larut (soluble dietary fiber), termasuk dalam serat ini adalah pektin dan gum, dan serat tidak larut (insoluble dietary fiber), termasuk dalam serat ini adalah selulosa, hemiselulosa dan lignin.9,10
Serat pangan merupakan komponen makanan yang penting karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia sehingga asupan hariannya harus terpenuhi dengan baik. Berdasarkan beberapa literatur dan penelitian yang telah dilakukan, asupan serat pangan yang tepat dapat mencegah terjadinya NCD antara lain hipertensi, obesitas, diabetes, gangguan kardiovaskuler, dan kanker. Dalam saluran pencernaan, serat pangan akan mempengaruhi waktu transit makanan, pengosongan lambung, dan proses penyerapan (absorpsi) nutrisi makanan, serta memicu pertumbuhan bakteri probiotik.9 Serat pangan larut (soluble dietary fiber) dalam saluran cerna akan larut dalam air membentuk cairan kental yang akan memperlama waktu pengosongan lambung dan memperlama waktu transit makanan dalam usus9 sehingga memberi rasa kenyang lebih lama dan mencegah untuk mengkonsumsi makanan lebih banyak. Makanan dengan kandungan serat kasar yang tinggi biasanya mengandung kalori rendah, kadar gula dan lemak rendah yang dapat membantu mengurangi terjadinya obesitas.11 Selain itu cairan kental serat terlarut memiliki sifat mudah difermentasi oleh mikroflora khususunya bakteri probiotik dalam usus besar.9-12 Bakteri probiotik yang hidup dalam saluran pencernaan setelah dikonsumsi membantu mengatasi intoleransi terhadap laktosa, mencegah kanker, hipertensi, menormalkan komposisi bakteri saluran pencernaan setelah pengobatan antibiotik, meningkatkan sistem kekebalan tubuh9, dan memproduksi asam lemak rantai pendek yang bersifat antikarsinogenik dan menghambat sintesis kolesterol.10
Asupan serat pangan yang cukup tinggi diketahui dapat menurunkan faktor risiko biologis gangguan kardiovaskular yang meliputi hipertensi, diabetes, obesitas, dan hiperkolesterolemia yang berujung pada menurunnya prevalensi gangguan kardiovaskuler antara lain penyakit jantung koroner, stroke, dan gangguan vaskularisasi perifer.11,13  Serat larut air dapat menjerat lemak di dalam usus halus, dengan begitu serat dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah sampai 5% atau lebih. Dalam saluran pencernaan serat dapat meningkatkan eksresi garam empedu dengan mengikat garam empedu (produk akhir kolesterol) kemudian dikeluarkan bersamaan dengan feses. Dengan demikian serat pangan mampu mengurangi kadar kolesterol dalam plasma darah yang dapat menghindari dari risiko gangguan kardiovaskular.11 Dengan berkurangnya kadar plasma darah dan penghambatan absorpsi lemak dan energi dalam usus, maka asupan serat pangan dapat menurunkan berat badan sehingga akan menurunkan risiko terjadinya obesitas. Selain itu, peningkatan asupan serat pangan juga menunjukan efek penurunan tekanan darah. Namun, belum diketahui pasti mekanisme serat pangan dalam menurunkan tekanan darah.12
Makanan yang mengandung serat pangan tinggi umumnya memiliki indeks glikemik yang rendah. Efek penghambatan waktu pengosongan lambung dan penurunan absorpsi makronutrien oleh serat pangan larut (soluble dietary fiber) menyebabkan penurunan kadar glukosa darah postprandial dan kadar insulin. Adanya penghambatan waktu pengosongan lambung juga akan memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga akan mengurangi konsumsi makanan yang berlebih. Namun, efek tersebut tergantung pada viskositas cairan kental yang dihasilkan dari pelarutan serat pangan oleh air karena setiap jenis serat pangan larut (soluble dietary fiber) memiliki pengaruh yang berbeda pada viskositas cairan kental yang dihasilkan. Serat pangan yang memiliki viskositas tinggi seperti guar gum memiliki efek yang baik dalam menurunkan kadar glukosa darah postprandial. Selain itu, peningkatan asupan serat pangan juga diketahui memiliki pengaruh terhadap peningkatan sensitivitas insulin.10,12 Oleh karena itu, asupan serat pangan dikaitkan dengan penurunan risiko dan prevalensi diabetes.
Karena perannya dalam memicu pertumbuhan bakteri probiotik, serat pangan diketahui dapat mencegah kanker khususnya kanker kolorektal. Bakteri probiotik mampu mengurangi bahaya penyerapan bahan kimia yang bersifat karsinogen, mencegah kerusakan DNA pada sel tertentu, menghasilkan komponen yang menghambat pertumbuhan sel tumor, merangsang sistem kekebalan untuk lebih tahan terhadap pembelahan sel kanker.9 Dalam saluran pencernaan, bakteri probiotik akan melakukan proses fermentasi yang menghasilkan asam-asam lemak dengan rantai pendek yang bersifat antikarsinogenik.10
Kecukupan asupan serat kini dianjurkan semakin tinggi, mengingat banyak manfaat yang menguntungkan untuk kesehatan tubuh, adequate intake (AI) untuk serat pangan sebagai acuan untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan dan kesehatan lainnya kini telah dikeluarkan oleh WHO. AI serat pangan yang direkomendasikan bagi orang dewasa 14 g/1000 kcal.12 Berdasarkan AI serat pangan tersebut asupan serat pangan harian untuk orang dewasa direkomendasikan sebesar 20-35 g/hari dari yang sebelumnya hanya 16-28 g/hari.9 Sementara itu, asupan serat pangan pada anak-anak dibedakan berdasarkan kelomok usia, yaitu usia 1-3 tahun sebanyak 19 g/hari; usia 4-8 tahun sebanyak 25 g/hari; laki-laki usia 9-13 tahun sebanyak 31 g/hari; perempuan usia 9-13 tahun sebanyak 26 g/hari; laki-laki usia 14-18 tahun sebanyak 38 g/hari; dan perempuan usia 14–18 tahun sebanyak 26 g/hari.12 Namun, asupan serat pangan juga perlu diperhatikan karena jika dikonsumsi secara berlebih akan menimbulkan efek yang merugikan bagi tubuh. Salah satu efek merugikan yang ditimbulkan akibat konsumsi serat pangan berlebih adalah defisiensi nutrisi dan mineral. Karena serat pangan tidak dicerna dalam usus halus, maka serat pangan yang berlebihan akan memenuhi ruang usus halus yang dapat memperkecil luas daerah absorpsi makanan dan menyebabkan zat-zat nutrisi dalam makanan yang diperlukan oleh tubuh tidak diabsorpsi secara optimal dalam usus halus sehingga tubuh mengalami defisiensi nutrisi.9,11 Sementara itu, efek serat pangan yang menghambat absorpsi lemak (kolesterol) dan merangsang eksresi garam empedu dapat menyebabkan kurangnya kadar kolesterol dalam darah sehingga mempengaruhi jumlah mineral-mineral yang larut dalam lemak seperti vitamin D dan vitamin E.11 Oleh karena itu, asupan serat pangan harus dijaga agar tidak berlebih dan juga tidak kurang sehingga menfaatnya bagi kesehatan tubuh dapat dirasakan.
Dengan banyak manfaat yang baik bagi kesehatan, maka asupan serat pangan merupakan komponen yang penting untuk diperhatikan dalam usaha pencegahan NCD. Dengan peningkatan asupan serat pangan yang tepat dan sesuai, diharapkan angka morbiditas dan mortilitas NCD akan berkurang. Diperlukan kesadaran setiap individu akan pentingnya pola makanan sehat dalam menjaga kesehatan. Disamping itu, peran pemerintah dan kalangan profesional terkait sangat penting dalam memberikan edukasi bagi masyarakat terhadap pentingnya asupan serat pangan dan pola makanan sehat dalam mencegah penyakit-penyakit kronis tidak menular yang tergolong dalam NCD.





DAFTAR PUSTAKA

1.      Beaglehole R, Yach D. Globalisation and the prevention and control of non-communicable disease: the neglected chronic diseases of adults. The Lancet. 2003 Sep 13; 362: 903-08
2.      World Health Organization [Internet]. [Place unknown]: World Health Organization; 2013 [cited 2014 Jan 10]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs355/en/
3.      Kim HC, Oh SM. Noncommunicable Diseases: Current Status of Major Modifiable Risk Factors in Korea. J Prev Med & Public Health. 2013; 46: 165-172
4.      Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan: Penyakit Tidak Menular. Jakarta: 2012; 2(2)
5.      World Health Organiztion. 2008-2013 Action Plan for the Global Strategy for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases. Geneva: 2008
6.      World Health Organiztion. 2008-2013 Global status report on noncommunicable diseases 2010. Geneva: 2011
7.      Magnusson RS. Non-communicable diseases and global health governance: enhancing global processes to improve health development. Globalization and Health. 2007 May 22; 3(2): 1-16
8.      Tokunaga M, Takahashi T, Singh RB, Rupini D, Toda E, Nakamura T, Mori H, Wilson DW. Diet, Nutrients and Noncommunicable Diseases. The Open Nutraceuticals Journal. 2012; 5: 146-159
9.      Kusharto CM. Serat Makanan Dan Peranannya Bagi Kesehatan. Jurnal Gizi dan Pangan. 2006 Nov; 1(2): 45-54
10.  Lattimer JM, Haub MD. Effects of Dietary Fiber and Its Components on Metabolic Health. Nutrients. 2010; 2: 1266-89
11.  Santoso A. Serat Pangan (Dietary Fiber) dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. Magistra. 2011 Mar; 75: 35-40
12.  Anderson JW, Baird P, Davis Jr RH, Ferreri S, Knudtson M, Koraym A, Waters V, Williams CL. Health benefits of dietary fiber. Nutrition Reviews. 2009; 67(4): 188–205

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.