Skip to main content

Journey to a Piece of East Borneo (Compete, Travel, and Have Fun)

Hello readers!

Sudah lama banget nih saya nggak blogging (sekitar 1 tahun lamanya T.T). Well, semua itu mungkin karena saya 'keenakan' menjalani hectic life sebagai mahasiswa farmasi kali ya XD.
Berhubung sekarang lagi nganggur (karena udah nggak ambil kuliah lagi) sambil penelitian skripsi, jadi iseng buka blog dan tertarik untuk blogging lagi deh hehehe...

DI tulisan pertama saya di tahun 2016 ini (dan tulisan setelah 1 tahun ninggalin blog ini), saya ingin berbagi pengalaman dan pendapat saya ketika berkunjung ke salah satu provinsi di Pulau Kalimantan (aka Borneo) pada bulan November 2015 lalu. Kalau sebelumnya tulisan saya kebanyakan tentang topik dan bahasa yang agak berat dan formal (maybe), kali ini saya ingin membagi pengalaman saya melalui tulisan dengan bahasa saya sendiri hehehe XD


Let's check it out..




Minggu (15/11/2015) pagi saya mendapat sms yang agak mengejutkan dan berisi informasi kalau saya terpilih sebagai finalis lomba esai ilmiah Eurycoma Competition yang diadakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda-Kalimantan Timur dan saya diundang untuk mempresentasikan karya esai saya di depan dewan juri untuk penentuan juara. Kenapa mengejutkan??? Karena informasi itu bagi saya sangat mendadak dan presentasi karya akan diadakan pada hari Sabtu (21/11), sedangkan saat itu saya sedang sibuk-sibuknya menjalani minggu UTS. Awalnya sih berpikir untuk mengundurkan diri saja berhubung saya lebih memprioritaskan urusan kampus. Tetapi setelah 1 hari berpikir, saya bercerita ke salah satu teman saya (Kak Feb) di kampus dan dia memberikan solusi untuk keberangkatan saya. Well, akhirnya saya berpikir setidaknya saya harus berusaha karena kesempatan ini tidak datang dua kali. Lagipula kalau saya mendapat juara juga akan membawa nama institusi saya. Akhirnya sayapun meluangkan waktu untuk mempersiapkan keberangkatan, walaupun harus kejar-kejaran dengan jadwal UTS dan deadline tugas2 kuliah saat itu. Selain itu, saya sangat excited karena pertama kalinya saya akan menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan dan pertama kalinya bagi saya pergi ke luar pulau sendirian hehehe (maaf kalau norak XD).

Ya, sebelumnya saya mengirimkan karya esai saya untuk lomba Eurycoma karena keisengan saya setelah lama tidak mengikuti kompetisi menulis (terakhir kali di tahun 2012). Karena ada ide terkait tema lomba dan waktu luang untuk menulis esai akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti lomba esai Eurycoma, selain karena hadiahnya yang menggiurkan hehehe.. Saya juga berpikir selama ini masih sedikit minat mahasiswa di jurusan saya yang mau mengikuti kompetisi di luar Bali, padahal saya melihat peluang yang ada sangat banyak dan tentunya pengalaman yang akan diperoleh tentu luar biasa. Jadi kenapa tidak saya coba, siapa tau nanti bisa menarik minat mahasiswa lain di jurusan saya untuk berprestasi di ajang kompetisi karena yang selama ini hanya sibuk dengan urusan kuliah dan organisasi.

Saya memutuskan untuk berangkat dari Denpasar pada hari Kamis (19/11) siang karena di panduan lomba yang saya unduh diinformasikan kalau hari Jumat (20/11) rangkaian acara Eurycoma sudah dimulai. But, the hell is coming to me one day before my departure. Why? Rabu pagi (18/11) seharusnya saya menjalani UTS Kewirausahaan, tapi saat sudah duduk manis di kelas tiba-tiba teman saya yang menjadi koordinator matakuliah tersebut menginformasikan kalau dosen mendadak sms pagi itu dan bilang kalau ujiannya take home dan soal akan dikirim siang harinya. OMG!!! Seluruh mahasiswa yang sudah siap ujian dan sambil mengucapkan mantra-mantra (eh materi-materi) yang sudah dihapal pun kecewa. Tapi ada juga sih yang merasa senang (terutama bagi yang merasa belum belajar), hehehe. Sayapun mulai khawatir karena besoknya saya akan berangkat dan saat itu saya belum menyiapkan apapun (slide presentasi belum saya siapkan, apalagi yang lain2 XD). Karena ujian pagi itu dibatalkan, saya memutuskan memanfaatkan waktu tersebut untuk booking tiket pesawat. Soal ujian take home pun tidak kunjung dikirim oleh dosen dan akhirnya baru dishare oleh teman saya sore harinya. And... Melihat soal dan peraturan ujiannya saja saya sudah pasrah karena soal berjumlah 17 biji (sebutkan dan jelaskan blablabla..) dan jawabanpun harus dikumpul esok hari sebelum jam 12 siang dengan dibuat dalam dua versi (softcopy diketik dan hardcopy tulis tangan di kertas double folio). Okay, challenge accepted! Sayapun memilih untuk mempersiapkan barang-barang untuk keberangkatan saya terlebih dahulu. Dan malam itu saya rela tidak tidur (lagi) untuk membuat jawaban ujian take home agar esok paginya bisa saya titip teman untuk mengumpulkan. Well, toh akhirnya selesai jugaaa....

Hari keberangkatan saya pun tiba (19/11). Setelah menyelesaikan ujian take home saya coba untuk buat slide presentasi pada pagi harinya. Tapi karena belum ada inspirasi, yaudah deh tutup laptop lagi dan memilih untuk tidur sejenak. Sekitar dua jam tidur lumayan lah untuk membayar waktu tidur 1 malam (eh 2 malam maybe).. XD. Waktu menunjukkan jam 08.00 WITA, saya memutuskan untuk bersiap-siap sambil memeriksa kembali persiapan saya terutama keperluan untuk registrasi dan presentasi (kecuali slide presentasi yang memang belum saya persiapkan hehehe). Sekitar jam 10 pagi sayapun berangkat menuju Bandara Ngurah Rai diantar oleh abang Go-Jek yang baik hati. Sesampainya di bandara saya harus berjalan dari gerbang parkir sepeda motor menuju terminal keberangkatan domestik (luamayan melelahkan karena saat itu masih ngantuk XD). But thanks to abang Go-Jek yang sudah mendoakan saya agar selamat sampai tujuan dan bisa menang lombanya. Heheh.. Sampai di terminal keberangkatan domestik saya memilih langsung check-in dan menunggu di ruang tunggu untuk boarding. Sambil menunggu saya coba browsing untuk cari inspirasi buat slide presentasi. 

Sekitar jam 12 siang saya berangkat menuju Bandara Sepinggan Balikpapan (BPN) dengan pesawat Citilink. Eitss, tapi saya harus transit terlebih dahulu di Bandara Juanda Surabaya (SUB) selama kurang lebih 5 jam sebelum sampai di Balikpapan sekitar pukul 17.40 WITA. Ya, saya memilih penerbangan tersebut karena harganya paling terjangkau saat itu. Walaupun sebenarnya ada penerbangan langsung Citilink DPS-BPN, sayangnya seat untuk penerbangan tersebut sudah full. Selama transit, saya memanfaatkan waktu untuk memikirkan konsep slide presentasi dan akhirnya mulai muncul inspirasi dan niat untuk membuatnya. Hehehe..

Tiba di Bandara Sepinggan Balikpapan (sebenarnya nama bandaranya Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan), saya terkagum dengan kondisi bandara yang begitu bagus dan lega akhirnya sampai dan bisa mgninjakkan kaki di Kalimantan. Sayangnya saya sampai dalam kondisi sangat lelah dan memilih langsung menemui panitia Eurycoma yang menjemput saya tanpa mengabadikan arsitektur bandara yang sangat menarik dan modern itu. Disana saya bertemu dengan Satrio dan dia memesankan saya tiket minibus menuju ke kota Samarinda (namanya Kangguru kalau tidak salah, semacam angkutan antarkota milik travel gitu). Selama menunggu minibus datang, saya ngobrol tentang banyak hal (terutama tentang Kalimantan dan seperti biasa.. kehidupan mahasiswa farmasi XD) dengan Satrio yang ternyata mahasiswa farmasi Unmul angkatan 2011 (saya kira setidaknya seangkatan dengan saya hehehe). Oh iya, kenapa saya harus landing di Balikpapan? Kenapa tidak naik pesawat langsung saja dari Denpasar ke Samarinda? Karena bandara provinsi untuk Kalimantan Timur adalah Bandara Sepinggan, sedangkan di Samarinda bandaranya (menurut teman di farmasi Unmul) sedang dalam pembangunan dan saya baca juga baru hanya melayani rute di Pulau Kalimantan saja. Jadi saya harus menuju Samarinda dari Balikpapan dengan transportasi darat sekitar 3 jam.
Saya tiba di Samarinda sekitar pukul 11 malam. Perkiraan saya, seharusnya saya tiba sekitar pukul 9 malam. Tapi karena (katanya) ada truck/tronton terbalik di jalan jadi kondisi lalu lintas menjadi terhambat. Tapi itu tidak jadi masalah karena saking lelahnya saya tertidur selama di perjalanan dan baru tersadar ketika sudah akan memasuki kota Samarinda.

Sesampainya di Samarinda pada Kamis malam, saya disambut 3 orang panitia (Dimas, Etsya, dan saya lupa namanya lagi satu hehehe). Kemudian saya diajak makan siomay dan langsung menuju penginapan untuk istirahat. Dan ternyataaaa... Saya adalah finalis pertama yang tiba di Samarinda. Dan ternyata lagi, acara dimulai pada Jumat sore (welcoming party) sehingga sebenarnya saya bisa berangkat Jumat pagi. Hmmm, tapi panitia hanya menginformasikan saya untuk datang pada Jumat (20/11) dan pada panduan lomba yang saya unduh-pun tertulis kalau hari Jumat itu ada acara seminar yang otomatis bisa diikuti finalis sehingga saya dengan pedenya memutuskan untuk berangkat pada hari Kamis dan pulang Minggu pagi. Merekapun menginformasikan kalau ternyata seminarnya diadakan hari Minggu dan meminta saya untuk reschedule penerbangan pulang kalau memungkinkan. Ya mau gimana lagi, itu sudah mepet jadi kalaupun saya harus reschedule tentunya akan memakan biaya tambahan untuk penerbangan. Akhirnya saya memutuskan tetap pulang sesuai jadwal dan tidak mengikuti acara seminar setelah mencoba menghubungi maskapai penerbangan pulang saya. Well, menurut saya seharusnya sih panitia mengirimkan SK finalis dan susunan acara fix bersamaan dengan pengumuman finalis apalagi tenggat waktunya sangat mepet. Tapi saya juga sih yang kurang konfirmasi mengenai susunan acara ke panitia hehehe.. But, it's not a big problem for sure! Tapi itu pengalaman yang sangat berharga dan cukup membuat saya merasa agak malu XD

Esok paginya saya memilih untuk menyelesaikan slide presentasi dan mempersiapkan diri untuk presentasi di hari Sabtu. Oh iya, saya menginap di salah satu penginapan yang dimiliki oleh Panti Asuhan Asih Manuntung Samarinda. Letaknya sangat dekat dengan kampus Universitas Mulawarman (bisa dibilang berada di kawasan Unmul). Menurut panitia, seharusnya finalis menginap di penginapan yang dimiliki Unmul, tetapi karena penuh maka penginapan finalis dipindahkan ke penginapan tersebut. Bagi saya sih sama sekali nggak masalah selama saya masih bisa istirahat/tidur hehehe. Selama saya membuat slide presentasi, saya didatangi oleh beberapa panitia dan juga salah satu perwakilan BEM Famul, Andika. Saya diajak ngobrol mengenai budaya dan makanan di Kalimantan dan bagaimana farmasi Unmul sambil menikmati nasi kuning Banjar (CMIIW) yang disediakan panitia. Hehehe.. Karena lagi fokus sama laptop jd saya kurang menikmati obrolan itu, hehehe (maafkan) XD. Sore harinya, saya kedatangan teman-teman finalis dari Jogja (anak UGM dan UAD). Oh iya finalisnya nggak cuma finalis esai, tapi juga ada finalis LKTM karena kebetulan kedua cabang lomba tersebut dibuka untuk tingkat nasional (jadi pesertanya dari institusi farmasi di seluruh Indonesia). Okay sepertinya bakal semakin ramai pikir saya karena ternyata beberapa panitia juga akan menginap di penginapan itu. Tapi sayang ada finalis LKTI dari UI dan finalis esai dari Unand yang tidak datang karena mengundurkan diri (mungkin karena terkendala biaya transportasi, sayapun berpikir keras dan untungnya mendapat bantuan dana dari himpunan untuk biaya transportasi XD). Sore harinya, kami para finalis dijemput oleh Dimas selaku LO untuk menuju tempat welcoming party yaitu di Rumah Dinas Walikota Samarinda (CMIIW) yang letaknya juga tidak jauh dari penginapan. Ketika sampai disana, waaaahhh keren sekali. Saya langsung terpana dalam hati melihat persiapan panitia untuk welcoming party. Mungkin ini baru pertama kali bagi saya mengikuti welcoming party semacam itu (jadi maklum hanya bisa terkesima hehehe) karena selama menjadi panitia di acara kampus yang setingkat nasional pun belum pernah semeriah dan semewah itu. Pokoknya keren lah bagi saya. Sampai-sampai digelar semacam red carpet untuk menuju ke ruangan tempat welcoming party (udah kayak Grammy Awards aja kali ya hihihi). Disana finalis dan undangan menikmati dinner sambil disuguhkan berbagai hiburan mulai dari hiburan tradisional (tari kreasi) hingga musik akustik. Eitss sebelum kembali ke penginapan kami terlebih dahulu mengikuti technical meeting untuk perlombaan esok harinya. Then, let's fight for the competition! :)


Foto bersama saat welcoming party



Sabtu (21/11) pagi, kami (para finalis) pun diantar kembali oleh Dimas menuju ke lokasi presentasi, yaitu di gedung Rektorat Universitas Mulawarman. Ternyata gedung rektoratnya lagi-lagi bagi saya sangat keren dan megah. Selama di perjalananpun kami diajak melewati lingkungan kampus Unmul di daerah Gunung Kelua (CMIIW) yang sangat asri dan tertata rapi (tidak bisa saya bandingkan dengan rektorat di institusi saya hehehe, peace ._.v). Kamipun memasuki salah satu ruang sidang di lantai 3 gedung tersebut (karena sedang ada perbaikan di lobby depan, jadi kami masuk lewat pintu belakang). Sayapun mulai tegang dan dalam hati saya hanya bisa pasrah melihat finalis lain yang terlihat sudah mantap dan dengan judul karya yang bagi saya waaahh!. Perlombaan dimulai dengan pembacaan peraturan lomba dan pengundian urutan presentasi. Wah ternyata presentasi LKTI dan esai dalam satu ruangan dan yang presentasi terlebih dahulu adalah finalis LKTI. Saya mendapat urutan ke 3 (kalau tidak salah, karena lupa hehe) untuk presentasi esai. Fyi, judul karya saya berkaitan dengan usaha marine biprospecting di Indonesia untuk tujuan produksi obat dan bahan baku obat dari alam (akan saya ceritakan pada kesempatan lain kalau sempat hehehe). Uniknya, selain dewan juri, audiens pun juga diperbolehkan untuk bertanya kepada finalis saat mempresentasikan karyanya. Bagi saya itu sangat menarik sekaligus sempat membuat saya tambah tegang hehehe.. But, toh akhirnya selesai jugaaa... Hasilnya? Serahkan kepada Tuhan, karena Tuhan pasti tahu yang terbaik hehehe...

Foto bersama setelah presentasi

Siangnya kamipun kembali ke penginapan dan kami diinformasikan bahwa akan diajak jalan-jalan di sekitar kota Samarinda. How excited it is! Kalau urusan jalan-jalan siapapun pasti nomor satu kan? XD. Okay, di siang yang sangat panas itu kamipun berangkat menuju destinasi pertama yaitu pasar oleh-oleh (saya lupa namanya, semacam kompleks penjualan oleh-oleh Malioboro di Jogja). Selama di perjalanan, kami melewati beberapa jalanan utama kota Samarinda yang bagi saya luas. Bagi saya, kota Samarinda merupakan kota yang besar (jauh lebih besar dari Denpasar) tetapi lalu lintasnya masih tergolong lancar (dibandingkan Denpasar dan Kuta yang sudah sangat padat lalu lintasnya, apalagi Jakarta -_-). Oh iya, sebelumnya kami diajak ke toko UKM Center untuk membeli amplang (camilan dari ikan) khas Kalimantan. Sayapun membeli 2 bungkus amplang disana (walaupun akhirnya nyesel kenapa cuma beli 2 bungkus T.T). Di pasar oleh-oleh itu, kami berkeliling memburu oleh-oleh khas Kalimantan khususnya Kalimantan Timur. Kebanyakan disana menawarkan batik Kalimantan dengan corak yang khas. Keren tapi harganya cukup menguras kantong, jadi saya mengurungkan niat membelinya mengingat koleksi batik di rumah aja belum semua terpakai hehehe.. Ada juga berbagai miniatur senjata suku Dayak, aksesoris khas suku Dayak. Yang menarik perhatian saya adalah miniatur Lembuswana yang ada di Tenggarong. Fyi, Lembuswana merupakan hewan yang berasal dari mitologi Kerajaan Kutai dan menjadi simbol dari kerjaan tersebut, kerajaan Hindu pertama di Indonesia. Kalimantan Timur juga tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Kutai karena wilayah provinsi tersebut dahulunya menjadi pusat Kerajaan Kutai khususnya di daerah hulu Sungai Mahakam. Hmm sayangnya saya waktu saya sangat singkat di Samarinda, jadi tidak bisa mengunjungi situs-situs sejarah di Kalimantan Timur yang menurut saya sangat kaya. Okay, karena saya tidak menemukan oleh-oleh yang sesuai akhirnya saya memutuskan membeli beberapa gantungan kunci miniatur senjata dan topeng suku Dayak, hehehe.

Masih di kota Smarinda dengan cuaca yang panas, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Fyi, (informasi dari teman disana) karena posisi kota Samarinda yang cukup dekat dengan garis ekuator mengakibatkan penyinaran matahari yang lebih lama dan lebih terik sehingga suhu udara di siang hari bisa lebih panas dibandingkan daerah di Jawa , Bali. Selain itu, cuaca juga sangat tidak menentu. Destinasi kami selanjutnya adalah Samarinda Islamic Center yang merupakan salah satu ikon kota Samarinda di tepi sungai Mahakam. Menurut informasi yang saya dapat dari panitia, masjid Islamic Center Samarinda merupakan masjid terbesar kedua di Asia Tenggara setelah masjid Istiqlal di Jakarta. Ketika memasuki kawasan masjid, saya takjub dengan besarnya bangunan masjid itu. Selain itu, kawasan masjid itu sangat bersih dan tertata rapi. Dengan arsitektur bergaya Arab saya merasa sedang berada di negara Timur Tengah (maaf kalau norak wkwkw XD). Awalnya saya merasa canggung ketika diajak berkunjung ke Islamic Center tersebut berhubung saya adalah non-muslim, tetapi panitia mengatakan tidak apa2 jadi saya akhirnya bisa menikmati kemegahan mesjid tersebut. Waktu itu, teman-teman finalis dan panitia yang laki-laki sholat di masjid dan sambil menunggu saya diajak oleh panitia yang perempuan untuk memasuki menara Asmaul Husna yang ada di kompleks Islamic Center tersebut. Dari atas menara setinggi 99 meter tersebut saya dapat melihat pemandangan kota Samarinda, sungai Mahakam, dan beberapa jembatan yang melintas di atas sungai Mahakam. Setelah itu, saya diajak berkeliling di sekitar kawasan masjid tersebut. Walaupun saya non-muslim, tapi saya senang bisa menikmati kemegahan masjid tersebut dan keindahan kota Samarinda dari atas menara Asmaul Husna. Pokoknya keren lah! Hehehe..


Salah Satu Gerbang di Islamic Center Samarinda
Sungai Mahakan dari Menara Asmaul Husna
Menara Asmaul Husna
Salah Satu Sudut Bangunan Masjid Islamic Center Samarinda


Next, kami diajak menuju destinasi terakhir yaitu tepian sungai Mahakam. Karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan yang terkenal dengan sungai-sungainya yang lebar dan panjang, tentu saya merasa takjub selama berada di Samarinda karena bisa melihat sebagian dari aliran sungai Mahakam yang melintas di kota Samarinda. Saat dalam penerbangan menuju bandara Balikpapan pun saya begitu takjub melihat hamparan hutan Kalimantan dengan ditengah-tengahnya terdapat aliran sungai yang panjang dari atas (dari pesawat maksudnya hehehe). Dan kamipun diajak berjalan-jalan menyusuri tepian sungai Mahakam karena tersedia semacam riverside walk untuk menikmati pemandangan disana. Sungguh luar biasa! Oh iya, disana juga saya melihat patung pesut Mahakam (mirip lumba-lumba) yang merupakan ikon Sungai Mahakam. Pesut Mahakam (katanya) dulu sering terlihat menyembul di sungai Mahakam, tapi saat saya berkunjung jumlah populasi pesut Mahakam sudah sedikit sehingga sudah jarang terlihat. Kasihan ya.. :(. Oh iya, selama berada di tepian sungai Mahakam, kami juga melihat beberapa angkutan batubara yang lewat. Ya, sungai Mahakam juga merupakan sarana transportasi di Samarinda. Saat saya berkunjung ke Samarinda tersebut adalah beberapa minggu (sekitar 2 minggu) setelah kebakaran hutan yang hebat di Kalimantan. Dimas mengatakan kalau 2 minggu yang lalu Samarinda sempat tertutup oleh asap kebakaran hutan. Well, semoga saja kedepannya masalah pembakaran hutan di Kalimantan bisa diatasi ya. Kalimantan itu masih punya banyak potensi lain  kok selain sumber daya hutan yang memang seharusnya dijaga (konservasi). Just be a smart human guys!


Suasana di Tepian Sungai Mahakam



Puas (walau sebenernya belum puas XD) dengan jalan-jalan di beberapa titik kota Samarinda, kamipun kembali menuju penginapan karena waktu juga sudah menujukkan untuk sholat Maghrib. Setelah teman-teman melaksanakan sholat Maghrib kami (di penginapan laki-laki) ngobrol2 tentang kehidupan, budaya, dan tentunya tak lupa topik tentang dunia kefarmasian. Harus saya akui teman-teman selama di Samrinda asyik untuk diajak ngobrol dan tentunya baik-baik. Saya merasa bisa bertukar pikiran dengan teman-teman disana dan mendapat sangat banyak pengalaman yang tentunya akan saya sesali kalau saya memilih untuk tidak datang ke Samarinda. I really have no regret to come to Samarinda because it's kinda amazing and most valuable experience I've ever had in my life! Hmm, sadly that was my last night in Samarinda. Time flies so fast ya. Sayang banget karena saya udah buru2 booking tiket pesawat jadi nggak bisa ikut acara sampai akhir. Pengumuman juara juga belum. :(

Esok paginya ditemani gerimis (maaf agak norak), sekitar jam 6 pagi saya diantar menuju halte Kangguru di Samarinda oleh salah satu panitia (kalau nggak salah Etsya, maaf bener2 lupa karena saya bukan orang yang bisa menghapal nama orang dengan cepat hehehe) dan satu panitia lagi sudah stand by membelikan saya tiket di halte (keduanya juga adalah orang yang menyambut saya ketika sampai di Samarinda). Mereka baik sekali, really good committees and you have good hospitality guys!. Ketika minibus Kangguru sudah datang sayapun berpamitan dengan mereka (tentunya nggak se-lebay adegan perpisahan di film-film ya XD). Selama perjalanan menuju Balikpapan saya mendapat sms dari Dimas yang berisi ucapan terimakasih dan permohonan maaf kalau ada kekurangan. Hey, but I thought you've done a great job with your friends. 

Okay, sekitar jam 9 sayapun tiba di Bandara Sepinggan (lebih cepat 1 jam dari perkiraan, mungkin karena supir Kanggurunya rada ngebut). Sayapun memilih langsung check-in, tapi setelah itu saya agak bingung mencari gate tempat saya akan memasuki pesawat melalui garbarata karena entah karena itu hari Minggu pagi suasana bandara sangat ramai dan agak sesak. Melihat saya kebingungan, salah satu mbak2 petugas bandara dengan sigap menghampiri saya. "Ada yang bisa dibantu, mas?" tanyanya. Sayapun menanyakan dimana gate keberangkatan saya dan mbak2 itu mengarahkan saya ke gate yang saya tuju. Fyi, saat penerbangan pulang saya menggunakan maskapai dengan logo singa merah. Sebenernya agak terpaksa pakai maskapai ini karena harganya paling terjangkau, padahal salah satu teman sudah memperingatkan risiko dan kekurangan menggunakan maskapai ini. But, it's okay lah selama saya bisa selamat sampai tujuan. Sama seperti penerbangan menuju Balikpapan, saat pulang saya harus transit terlebih dahulu di Bandara Juanda Surabaya. Tapi kali ini transit selama 2,5 jam saja. Hmm, sayangnya pelayanan cabin crew di penerbangan BPN-SUB saya tidak sebaik penerbangan dengan Citilink. Mulai kelihatan perbedaan kualitas maskapai ini pikir saya. Sesampainya di Juanda, saya kira harus check-in ulang seperti penerbangan saya dengan Citilink. Dengan polosnya saya menuju pengambilan bagasi dan menunggu tas saya. Oke hampir 30 menit dan saat banyak penumpang sudah mengambil kopernya, saya mulai curiga kok tas saya nggak nongol2. Setelah saya tanya ke petugas dan saya perlihatkan boarding pass saya. Eh ternyata bagasi saya sudah langsung transfer ke penerbangan menuju DPS dan saya hanya harus lapor transit tanpa perlu check in ulang (waduh, malu deh soalnya jarang2 bepergian pakai pesawat dan inipun baru pertama kali pakai penerbangan yang ada transitnya wkwkwk). Okay, 30 menit sudah habis untuk menunggu bagasi (yang ternyata sia-sia). Sisa waktu saya sekitar 2 jam. Sayapun memilih untuk membeli makanan untuk sarapan. Karena di bandara pasti harga mahal, saya memilih membeli roti dan sebotol air mineral (hmm itupun harganya udah diatas normal ya). Setidaknya lumayan mengganjal perut. Setelah roti yang saya beli habis, sayapun memilih menunggu di waiting room yang menurut saya agak kurang nyaman (beda dengan di bandara Sepinggan apalagi Ngurah Rai, hehe peace ._.v). Sekitar 1 jam menunggu, sayapun mendapat kabar kalau penerbangan saya delay sekitar 2,5 jam. Okay, lumayan bikin kesel dan nyesel kenapa milih masuk ke waiting room duluan. Tapi yasudahlah.. Sambil menunggu boarding, eh saya mendapat kabar dari Dimas kalau karya esai saya mendapat juara 3. Wah syukur deh hehehe, lumayan mengembalikan mood saya saat itu. Okay waktu boarding pun tiba, tapi setelah penumpang masuk ke kabin justru harus menunggu lagi (entah saya lupa alasannya karena udah nggak peduli). Hmm setelah sekitar 30 menit, akhirnya pesawat yang saya tumpangi bersiap untuk take off menuju bandara Ngurah Rai. Well, akhirnya sekitar jam 5 sore saya tiba di Bali. And of course back to hectic life as pharmacy student!

Okay, itu semua pengalaman saya ketika untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan (masih norak ya) untuk tujuan lomba dan juga jalan-jalan. Terimakasih kepada semua pihak yang sudah mendukung perjalanan saya tersebut. Haha!. Hmm, kalau ada kesempatan pengen banget berkunjung ke Kalimantan lagi. There're so many things to explore in Borneo! Saya benar-benar mendapatkan pengalaman yang luar biasa disana. Kata teman di Samarinda, ada kepercayaan kalau sudah minum air dari sungai Mahakam pasti suatu saat akan berkunjung kesana lagi. Okay I got it! I'm sure I'll be back someday hehehe

Maafkan kalau tulisan ini sangat panjang hehehe, maklum udah lama banget nggak nulis. Sekalinya dapet nulis ya gini deh.. Semua hal diceritain. Dan baru belajar nulis pengalaman pribadi juga, jadi maaf kalau ada banyak kekurangan.
Semoga bisa menjadi bacaan yang menyenangkan wkwkwk
Btw, thank you guys!

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…