Skip to main content

BATASAN APOTEKER DALAM SWAMEDIKASI BATUK

Hai kawan, pada tulisan saya sebelumnya tentang swamedikasi terapi pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik untuk pengobatan batuk saya mengatakan untuk jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan Apoteker terlebih dahulu sebelum memutuskan swamedikasi. Mungkin teman-teman bertanya tentang peran Apoteker dalam swamedikasi batuk. Nah, pada tulisan ini saya ulas batasan seorang Apoteker dapat melakukan swamedikasi terhadap pasien dan kapan sebaiknya pasien dirujuk ke dokter. Selamat membaca J

Ilustrasi Apoteker sedang memberikan Swamedikasi kepada Pasien

Bagaimana peran Apoteker dalam swamedikasi batuk?
Batuk akut karena adanya infeksi saluran pernapasan bagian atas umumnya merupakan gejala yang dapat sembuh dan akan hilang dengan sendirinya (self-limiting). Tetapi terkadang kondisi batuk tidak terkontrol dan mengganggu aktivitas sehingga memerlukan pengobatan untuk dapat menjaga kualitas hidup pasien dengan gejala batuk. 
Pada umumnya, pasien dengan gejala batuk ringan yang mengganggu aktivitas akan melakukan pengobatan sendiri terhadap gejala batuk yang dialami. Seringkali pasien datang ke apotek untuk membeli obat batuk. Dalam hal tersebut, Apoteker di komunitas memiliki peranan penting dalam menggali informasi untuk mengonfirmasi gejala batuk yang dialami oleh pasien sehingga Apoteker dapat memberikan pilihan pengobatan yang tepat serta KIE sesuai kondisi batuk. Dalam menggali informasi pasien, seorang Apoteker dapat mengajukan beberapa pertanyaan berikut.
Pertanyaan
Relevansi
Usia pasien
Anak-anak umumnya lebih sering mengalami infeksi saluran napas atas, tetapi asma dan peradangan pada laring dan trakea juga perlu dipertimbangkan.
Dengan peningkatan usia, kondisi seperti bronkitis, penumonia, dan keganasan (karsinoma) lebih mungkin terjadi.
Periodisitas
Pasien dewasa dengan batuk berulang mungkin mengalami bronkitis akut, terutama bila memiliki kebiasaan merokok.
Perawatan perlu dilakukan pada anak dengan riwayat keluarga yang pernah mengalami eksema, asma, atau hayfever serta rujukan ke dokter perlu disarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Durasi batuk
Gejala batuk pada kondisi infeksi saluran napas bagian atas dapat berlangsung hingga 3 minggu dan disebut sebagai batuk pasca infeksi virus (postviral cough). Tetapi batuk yang berlangsung hingga 3 minggu perlu diperhatikan karena semakin lama durasi batuk maka kemungkinan kondisi patologis (penyakit) yang ada akan semakin serius. Umumnya durasi gejala batuk berikut dapat dipertimbangkan.
Batuk selama 3 hari : Infeksi saluran napas atas
Batuk selama 3 minggu : bronkitis akut atau kronis
Batuk selama 3 bulan : bronkitis kronis, tuberkulosis, karsinoma
Warna sputum
Mukoid (bening atau putih) umumnya menandakan tidak adanya infeksi (normal)
Kuning, hijau, coklat umumnya mengindikasikan adanya infeksi. Sputum yang mukopurulen (berwarna kuning atau hijau dengan konsistensi pekat) biasanya menandakan infeksi virus.
Hemoptisis (sputum mengandung darah) dapat berupa warna kemerahan/rusty pada penumonia, merah muda (left ventricular failure) atau merah gelap (karsinoma).
Terkadang sputum dengan warna merah cerah dapat terjadi karena pasien batuk dengan keras yang mungkin menyebabkan pembuluh darah pecah.
Keadaan sputum
Sputum encer dan berbusa mengindikasikan kemungkinan left ventricular failure
Sputum pekat (kental) berwarna bening/putih kekuningan mengindikasikan kemungkinan asma
Sputum dengan bau busuk mengindikasikan kemungkinan bronkoekstasis atau abses pada paru
Onset batuk
Batuk yang memburuk pada pagi hari mungkin menandakan upper airways cough syndrome (UACS), bronkoekstasis, atau bronkitis kronis
Riwayat penyakit dan gaya hidup
Beberapa penyakit seperti gagal jantung, gastresophageal reflux disorder (GERD), asma, dan bronkitis kronis dapat menyebabkan gejala batuk.
Pasien dengan kebiasaan merokok lebih rentan mengalami batuk kronis yang mungkin menjadi penyakit paru obstruksi kronis (PPOK)
Pengobatan yang sedang dilakukan pasien
Obat hipertensi golongan ACE inhibitor dapat menyebabkan efek samping batuk kering yang kronis

Selain memberikan pilihan terapi obat, Apoteker juga dapat memberikan KIE mengenai pengobatan batuk yang dapat dilakukan tanpa menggunakan obat batuk. KIE penanganan batuk tanpa obat yang dapat diberikan antara lain:
1.      Minum banyak cairan (air atau sari buah) akan menolong membersihkan tenggorokan, jangan minum soda atau kopi.
2.      Hentikan kebiasaan merokok
3.      Hindari makanan yang merangsang tenggorokan (makanan dingin atau berminyak) dan udara malam.
4.      Madu dan tablet hisap pelega tenggorokan dapat menolong meringankan iritasi tenggorokan dan dapat membantu mencegah batuk kalau tenggorokan anda kering atau pedih.
5.      Hirup uap air panas (dari semangkuk air panas) untuk mencairkan sekresi
hidung yang kental supaya mudah dikeluarkan. Dapat juga ditambahkan
sesendok teh balsam/minyak atsiri untuk membuka sumbatan saluran
pernapasan.
6.      Bila batuk lebih dari 3 hari belum sembuh segera ke dokter
7.      Pada bayi dan balita bila batuk disertai napas cepat atau sesak harus segera dibawa ke dokter atau pelayanan kesehatan.

Kapan seorang Apoteker dapat merujuk pasien batuk ke dokter?
Dalam melakukan swamedikasi, Apoteker dapat merujuk pasien dengan gejala batuk berdasarkan beberapa pertimbangan berikut.
  • Batuk telah berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan tidak menunjukan gejala perbaikan
  • Adanya sputum purulen berwarna kuning, hijau, kemerahan (rusty), atau terdapat bercak darah
  • Nyeri pada dada
  • Kesulitan bernapas
  • Suara mengi saat bernapas
  • Batuk rejan (respon batuk dengan keras dan sakit)
  • Batuk pada malam hari yang terus berulang
  • Demam diatas 38,6oC
  • Adanya kemungkinan efek samping penggunaan obat
  • Gagal terapi dengan pengobatan swamedikasi batuk
  • Anak atau bayi yang mengalami batuk disertai kesulitan bernapas

Demikian dulu tulisan saya ini, semoga bermanfaat ya kawan dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam tulisan ini J


SUMBER
Blenkinsopp, A., P. Paxton, and J. Blenkinsopp. 2014. Symptoms in the Pharmacy: A Guide to the Management of Common Illness. 7th Edition. United Kingdom: Blackwell Publishing.
Depkes RI. 2007. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
Gitawati, R. 2014. Bahan Aktif Dalam Kombinasi Obat Flu dan Batuk-Pilek, dan Pemilihan Obat Flu yang Rasional. Media Litbangkes. Vol. 24, No. 1. Pp. 10-18.
Hanson, C. 2016. Cough Mixtures – an overview. S Afr Pharm J. Vol 83, No 5. Pp. 14-17.
Rutter, P, dan D. Newby. 2016. Community Pharmacy Australian New Zealand Edition: Symptoms, Diagnosis and Treatment. 3rd Edition. Australia: Elsevier.
Setyanto, D. B. 2004. Batuk Kronik pada Anak: masalah dan tata laksana. Sari Pediatri. Vol. 6, No. 2. Hal. 64-70.

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.