Skip to main content

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

 

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih?
Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatu perawatan sendiri oleh masyarakat terhadap penyakit atau gejala yang umum diderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran atau obat keras yang bisa didapat tanpa resep dokter dan diserahkan oleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi adalah Apoteker. Sebelum memutuskan pengobatan sendiri dengan obat-obatan swamedikasi, kita bisa meminta saran dan pertimbangan Apoteker terlebih dahulu. Jadi kalau datang ke apotek untuk membeli obat swamedikasi jangan lupa meminta informasi dan saran kepada Apoteker tentang swamedikasi yang akan kita lakukan ya kawan J

Sebelum kita mengenal obat antitusif, ekspektoran, dan mukolitik ada baiknya kita mengenal gejala atau kondisi batuk terlebih dahulu, karena ketiga golongan obat tersebut umumnya digunakan pada pengobatan batuk.

Apakah batuk itu penyakit?
Batuk bukan merupakan penyakit, tapi batuk merupakan gejala yang dapat terjadi pada siapa saja baik dalam kondisi sehat maupun normal. Kenapa? Karena batuk adalah suatu bentuk pertahanan tubuh ketika terjadi hambatan atau iritasi saluran napas. Tujuannya adalah untuk membersihkan saluran napas dari sekret/dahak, benda asing, dan zat lain sehingga dapat kembali bernapas secara normal. Pada orang dewasa sehat, batuk terjadi untuk membersihkan jalan napas dari mukus atau cairan yang dihasilkan pada saluran pernapasan. Mukus yang dikeluarkan dapat mencapai 30 ml/hari. Anak sehat dengan rerata umur 10 tahun biasanya mengalami 10 batuk dalam 24 jam dan sebagian besar batuk terjadi pada siang hari.
Frekuensi batuk akan meningkat hingga 8x lipat apabila terjadi gangguan tertentu seperti adanya infeksi pada saluran napas. Hampir semua keadaan yang mengganggu sistem pernapasan dan beberapa gangguan di luar sistem pernapasan, memberikan gejala batuk. Pada anak, batuk mungkin merupakan hal yang normal atau merupakan gejala penyakit saluran napas dan jarang merupakan gejala penyakit non-saluran pernapasan.

Jenis-jenis Batuk
Berdasarkan kondisi yang dialami, terdapat 2 jenis batuk, yaitu:
(a)    Batuk produktif, yaitu batuk yang menghasilkan pengeluaran sekret/dahak
(b)    Batuk tidak produktif atau batuk kering. Batuk kering ini sering menimbulkan kelelahan dan menggangu istirahat/tidur penderita dan ini perlu ditekan dengan antitusif
Berdasarkan lamanya (durasi) gejala batuk dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut
(a)    Batuk akut adalah batuk yang terjadi kurang dari 2 minggu
(b)    Batuk akut yang berkepanjangan adalah batuk yang terjadi selama 2 hingga 4 minggu
(c)    Batuk kronis adalah batuk yang terjadi lebih dari 4 minggu
(d)    Batuk kronis persisten (menetap) adalah batuk yang terjadi lebih dari 8 minggu.

Apa saja yang mungkin menyebabkan batuk?
Rangsangan yang dapat mencetuskan terjadinya batuk dapat berasal dari :
(a)   Dalam paru-paru dan saluran pernapasan, seperti adanya peradangan, alergi zat kimia dan dingin juga rangsangan mekanik (penekanan saluran napas akibat adanya tumor);
(b)   Luar paru-paru dan saluran napas, seperti radang pada saluran napas atas, toraks/pleura (selaput paru-paru), dan
(c)    Sentral, yaitu adanya  rangsangan pada sistem saraf.
Umumnya, penyebab batuk akut adalah infeksi, alergi, dan sindrom pada saluran pernapasan bagian atas. Infeksi saluran napas bagian atas akibat virus merupakan penyebab batuk akut yang paling sering dijumpai pada seluruh umur. Beberapa kondisi atau penyakit yang mungkin disertai dengan gejala batuk adalah asma, gagal jantung, kanker pada organ saluran napas, gastresophageal reflux disorder (GERD), abses pada paru, dan penggunaan obat antihipertensi golongan ACE inhibitor.
Batuk karena infeksi virus biasanya terjadi secara tiba-tiba dan dapat disertai demam. Produksi dahak minimal dan gejala umumnya menjadi lebih berat di sore/malam hari. Gejala batuk juga biasanya disertai dengan flu dan berlangsung selama 7 hingga 10 hari. Durasi batuk yang lebih dari 14 hari mungkin menandakan batuk setelah adanya infeksi virus (postviral cough) atau kemungkinan adanya infeksi sekunder oleh bakteri.


Ilustrasi Obat Batuk

Selanjutnya, apa sih Antitusif, Ekspektoran, dan Mukolitik itu?
Antitusif, Ekspektoran, dan Mukolitik adalah tiga jenis golongan obat yang umum digunakan pada pengobatan batuk. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu persatu.
1.      Antitusif
Antitusif adalah obat yang bekerja menghambat atau menekan refleks batuk. Kebanyakan antitusif bekerja menekan refleks batuk secara sentral yaitu pada pusat batuk di medula oblongata (batang otak) sehingga pusat refleks batuk kurang peka terhadap rangsang batuk yang menyebabakan berkurangnya intensitas dan frekuensi batuk. Jadi, secara singkat antitusif ini bekerja dengan menekan pusat batuk yang adanya di batang otak. Tujuannya agar gejala batuk yang dialami menjadi berkurang.
Antitusif ini dibedakan menjadi 2 kawan, yaitu antitusif narkotik (misalnya kodein, noskapin, dan hidrokodon) dan antitusif non-narkotik (misalnya dektrometorphan, difenhidramin). Obat antitusif tanpa resep dokter yang tersedia di apotek tidak tersedia dalam bentuk senyawa tunggal (hanya antitusif saja) karena penggunaan antitusif ummumnya memliki efek ketergantungan dan berpotensi tinggi untuk disalahgunakan.
2.      Ekspektoran
Ekspektoran adalah obat batuk yang bekerja dengan meningkatkan refleks batuk batuk dan menurunkan kekentalan (viskositas) dahak dengan meningkatkan pengeluaran dahak pada saluran napas sehingga dahak menjadi lebih encer dan lebih mudah untuk dikeluarkan. Contoh dari ekspektoran yang umum dijumpai pada obat batuk berdahak tanpa resep (OTC) adalah Gliseril Guaikolat, Natrium sitrat, Amonium klorida, Guaifenesin, ipecacuanha
3.      Mukolitik
Mukolitik merupakan obat batuk yang mengencerkan dahak dengan bekerja langsung pada dahak (mukus) yaitu memecah ikatan protein sehingga dahak menjadi lebih cair dan mudah dikeluarkan. Contoh dari mukolitik yang umum dijumpai pada obat batuk berdahak tanpa resep (OTC) adalah Asetilsistein, Ambroksol dan Bromheksin

Pemilihan Obat Batuk
Nah, setelah mengetahui apa itu obat antitusif, ekspektoran, dan mukolitik lalu bagaimana penggunaannya pada batuk? Apakah ketiga obat tersebut dapat digunakan pada semua jenis batuk?
Tentu tidak kawan, karena tiap obat tersebut memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Obat antitusif merupakan obat yang khusus digunakan untuk mengatasi batuk kering karena bekerja dengan menekan pusat batuk. Sedangkan ekspektoran dan mukolitik adalah obat yang dihususkan untuk batuk berdahak dengan tujuan agar dahak lebih mudah untuk dikeluarkan. Obat-obat tersebut umumnya tersedia dalam obat tanpa resep (over the counter/OTC) berupa kombinasi dengan obat flu dan alergi karena batuk juga dapat disebabkan oleh alergi dan seringkali disertai dengan gejala pilek.
Perlu kawan ketahui juga beberapa produk obat batuk yang tersedia di pasaran (apotek) ada yang memiliki kandungan yang tidak rasional lho kawan. Hal yang paling sering dijumpai adalah obat batuk dengan kandungan penekan batuk (antitusif) dan peningkat respon batuk (ekspektoran). Hendaknya produk seperti itu dihindari karena efeknya yang saling berlawanan sehingga akan tidak efektif dalam mengatasi gejala batuk. Pada batuk berdahak tidak boleh diberikan penekan batuk karena tertahannya dahak pada saluran napas dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri patogen saluran napas yang mungkin lebih berbahaya dan parah.
Pada pasien diabetes, penggunaan obat batuk berupa sirup yang mengandung gula perlu dipertimbangkan. Pasien dapat disarankan untuk melakukan pemeriksaan gula darah lebih rutin karena penggunaan obat sirup yang mengandung gula mungkin mempengaruhi gula darah pasien. Bila memungkinkan, dapat dipertimbangkan pula obat batuk yang tidak mengandung gula,¸misalnya penggunaan obat dalam bentuk tablet.
Jadi hati-hati dalam memilih produk obat batuk untuk swamedikasi ya kawan, jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan Apoteker terlebih dahulu sebelum memutuskan swamedikasi J

Penggunaan Obat Batuk Pada Anak

Pada pasien anak usia dibawah usia 12 tahun, swamedikasi batuk tidak dianjurkan menggunakan obat batuk dan pada anak usia 6 tahun keatas dapat digunakan obat batuk dengan atas dasar pertimbangan dan pengawasan ketat oleh dokter, Apoteker, atau perawat dengan karena khasiatnya belum terbukti melalui penelitian yang terpercaya dan manfaat yang ditimbulkan melebihi risiko efek samping yang mungkin muncul. Pengobatan batuk pada anak yang dianjurkan adalah dengan minum air putih yang cukup serta menggunakan madu sebagai demulsen yaitu agen yang melindungi membran mukosa saluran napas yang menghasilkan dahak dan melegakan jalan napas sehingga pasien anak dapat merasa lega dalam bernapas.


Demikian dulu tulisan saya mengenai swamedikasi terapi pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik untuk pengobatan batuk. Semoga bermanfaat ya kawan dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam tulisan ini J



SUMBER
Blenkinsopp, A., P. Paxton, and J. Blenkinsopp. 2014. Symptoms in the Pharmacy: A Guide to the Management of Common Illness. 7th Edition. United Kingdom: Blackwell Publishing.
Depkes RI. 2007. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
Gitawati, R. 2014. Bahan Aktif Dalam Kombinasi Obat Flu dan Batuk-Pilek, dan Pemilihan Obat Flu yang Rasional. Media Litbangkes. Vol. 24, No. 1. Pp. 10-18.
Hanson, C. 2016. Cough Mixtures – an overview. S Afr Pharm J. Vol 83, No 5. Pp. 14-17.
InfoPOM. 2004. Pengobatan Sendiri. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Rutter, P, dan D. Newby. 2016. Community Pharmacy Australian New Zealand Edition: Symptoms, Diagnosis and Treatment. 3rd Edition. Australia: Elsevier.
Staff Pengajar Departemen Farmakologi FK Universitas Sriwijaya. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Setyanto, D. B. 2004. Batuk Kronik pada Anak: masalah dan tata laksana. Sari Pediatri. Vol. 6, No. 2. Hal. 64-70.

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.