Skip to main content

Yuk Ketahui Bahaya Anemia pada Ibu Hamil dan Gejala serta Pengatasannya...


Mengapa anemia berbahaya pada Ibu hamil?
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun masa selanjutnya. Masalah saat kehamilan dan persalinan yang dapat timbul akibat anemia adalah :
-     Keguguran (abortus)
-     Kelahiran prematur (kelahiran pada usia kehamilan kurang dari 9 bulan)
-     Berat badan janin kurang
-     Eklampsia (Hipertensi saat kehamilan)
-     Persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri)
-     Perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri)
-     Ketuban pecah dini
-     Kondisi fisik janin lemah (dinyatakan dengan Apgar score)
-     Gawat janin (janin tidak menerima oksigen cukup sehingga mengalami sesak)
-     Infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin
-     Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan
-     Anemia yang berat (Hb <4 dapat="" gr="" menyebabkan="" span="">gagal jantung hingga kematian ibu hamil
(Wiknjosastro, 2005; Saifudin, 2006; Mansjoer dkk., 2008).


Bagaimana mengetahui Ibu hamil yang mengalami Anemia?
Secara umum, beberapa gejala pada ibu hamil yang patut dicurigai mengalami anemia adalah:
-     Lemah
-     Letih
-     Lesu
-     Cepat lelah
-     Pucat
-     Mudah pingsan
-     Tekanan darah dalam batas normal
-     Mata berkunang kunang
-     Sering mengantuk
-     Selaput lendir, kelopak mata, dan kuku pucat.
Untuk memastikan seorang ibu menderita anemia atau tidak, maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar Hemoglobin dan pemeriksaan darah tepi (Wiknjosastro, 2005). Proses kekurangan zat besi sampai menjadi anemia melalui beberapa tahap: awalnya terjadi penurunan simpanan cadangan zat besi dalam bentuk fertin di hati, saat konsumsi zat besi dari makanan tidak cukup, fertin inilah yang diambil. Daya serap zat besi dari makanan sangat rendah, Zat besi pada pangan hewan lebih tinggi penyerapannya yaitu 20 – 30 % sedangkan dari sumber nabati 1-6 %. Bila terjadi anemia, kerja jantung akan dipacu lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan oksigen ke semua organ tubuh, akibatnya penderita sering berdebar dan jantung cepat lelah (Sin sin, 2008).

Bagaimana mencegah anemia pada ibu hamil?
Pencegahan anemia pada ibu hamil dapat dilakukan antara lain dengan cara meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan, mengkonsumsi pangan hewani dalam jumlah cukup, namun karena harganya cukup tinggi sehingga masyarakat sulit menjangkaunya. Untuk itu diperlukan alternatif yang lain untuk mencegah anemia gizi besi, memakan beraneka ragam makanan yang memiliki zat gizi saling melengkapi termasuk vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-buahan segar dan sayuran sumber vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50 - 80 % vitamin C akan rusak. Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat penyerapan zat besi seperti : fitat, fosfat, tannin ( Wiknjosastro, 2005 ; Masrizal, 2007). 
Nah, berdasarkan penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa pencegahan anemia pada kehamilan yang utama adalah dengan menjaga pola makan ibu hamil agar memenuhi kebutuhan gizi bagi ibu dan janinnya selama kehamilan. Dalam memenuhi kebutuhan gizi pada ibu hamil kita harus memperhatikan konsep 3-M. Apa itu konsep 3-M? Mari kita simak pada video yang menarik berikut dari mahasiswa FK Universitas Lambung Mangkurat.

 
Video Lengkapi Gizi Ibu Hamil dengan 3M (Sumber: Youtube)


Bagaimana penanganan anemia pada ibu hamil?
Penanganan anemia defisiensi besi adalah dengan produk/sediaan besi yang diminum (oral) atau dapat secara suntikan (parenteral). Terapi oral adalah dengan pemberian suplementasi besi berupa fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero bisitrat. Pemberian suplemen sebesar 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr% per bulan. Sedangkan pemberian preparat parenteral (suntikan) adalah dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2×10 ml secara intramuskular, dapat meningkatkan hemoglobin relatif cepat yaitu 2gr%. Pemberian secara parenteral ini hanya berdasarkan indikasi, di mana terdapat intoleransi besi pada saluran gastrointestinal (saluran pencernaan), anemia yang berat, dan pasien tidak patuh minum suplemen besi. Pada daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi dan dengan tingkat pemenuhan nutrisi yang minim, seperti di Indonesia, setiap wanita hamil haruslah diberikan fero sulfat atau fero glukonat sebanyak satu tablet sehari selama masa kehamilannya. Selain itu perlu juga dinasehatkan untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin (Sasparyana, 2010 ; Wiknjosastro 2005). 

 
Gambar Ilustrasi Asupan Zat besi dan nutrisi melalui suplementasi dan makanan

Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. Selama kehamilan seorang ibu hamil menyimpan zat besi kurang lebih 1.000 mg termasuk untuk keperluan janin, plasenta dan hemoglobin ibu sendiri. Kebijakan nasional yang diterapkan di seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat adalah pemberian satu tablet besi sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang pada awal kehamilan. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 μg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu penyarapannya ( Depkes RI, 2009). Menurut Shafa (2010) kebutuhan Fe selama ibu hamil dapat diperhitungkan untuk peningkatan jumlah darah ibu 500 mgr, pembentukan plasenta 300 mgr, pertumbuhan darah janin 100 mgr. Suplementasi zat besi telah terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin selama kehamilan yang ditandai dengan meningkatnya serum feritin secara signifikan (Brien et al., 1999; Galegos, 2000).

Demikian informasi tentang anemia pada kehamilan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat ya kawan :)

Popular posts from this blog

Interprofessional Education (IPE) dan Praktek Kolaborasi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Made Rai Dwitya Wiradiputra, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) telah merumuskan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat.Sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan nasional. Derajat kesehatan masyarakat adalah gambaran kemampuan kinerja petugas kesehatan untuk mencapai indikator kesehatan, antara lain umur harapan hidup, angka kematian, dan status gizi. Salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu sumber daya kesehatan, yang diharapkan dapat…

SWAMEDIKASI TERAPI ANTITUSIF, EKSPEKTORAN, DAN MUKOLITIK

Halo kawan, tulisan saya ini bertujuan untuk memberikan informasi swamedikasi dengan pengobatan antitusif, ekspektoran, dan mukolitik. Selamat membaca J

Sebelumnya mungkin akan ada pertanyaan, swamedikasi itu apa sih? Swamedikasi adalah istilah lain dari pengobatan sendiri, yaitu suatuperawatan sendiri oleh masyarakatterhadap penyakit atau gejala yang umumdiderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaranatau obat keras yang bisa didapattanpa resep dokter dan diserahkanoleh Apoteker di apotek. Wah maksudnya bagaimana? Oke jadi intinya pengobatan sendiri itu adalah tindakan peerawatan terhadap suatu kondisi atau gejala penyakit yang dilakukan secara mandiri oleh seseorang dengan obat-obat yang dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Walaupun dilakukan secara mandiri, kita hendaknya memperoleh informasi yang benar dari tenaga kesehatan untuk melakukan swamedikasi ya kawan. Salah satu tenaga kesehatan terdekat yang bisa kita tanyakan untuk melakukan swamedikasi ada…

Perbedaan dan Hubungan Biosintesis Terpenoid Jalur Mevalonat (MVA) dan Non- Mevalonat (MEP)

Review JurnalOleh : Made Rai Dwitya Wiradiputra & I Gusti Ayu Nyoman Suastini(2013)Image source : http://plantphys.net
Semua terpenoid dihasilkan melalui biosintesis dua prekursor universal C5 yaitu IPP dan isomernya DMAPP. Terpenoid dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah unit C5 yang menyusunnya. Terdapat dua jalur biosintesis terpenoid berdasarkan pembentukan prekursor C5 IPP dan DMAPP yaitu jalur asam mevalonat dan non mevalonat.